Breaking News
Home / Kajian / Kisah Yusuf, Si Nabi Ganteng #23

Kisah Yusuf, Si Nabi Ganteng #23

Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Yusuf: 34]

Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu [QS Yusuf: 35]

Ada sedikit pertanyaan yang menggelitik pikiran saya ketika Yusuf lebih memilih penjara. Karena tak lama ketika ia “menolak” permintaan atau menjauhi para perempuan, ia dipenjarakan.

Mengapa ia yang dipenjara? Memang apa kesalahannya? Mengapa bukan para perempuannya yang dipenjarakan? Ataukah pemikirannya seperti ini. Jika para perempuan yang dipenjarakan, maka itu pasti akan memakan tempat yang lebih banyak di penjara. Belum lagi jika para perempuan itu merupakan istri para bangsawan kota. Ibu dari anak-anak bangsawan.

Mungkin lebih baik Yusuf saja yang dipenjarakan. Toh ia masih jomblo, high quality jomblo. Hidup sebatang kara. Tidak ada yang perlu mencemaskannya. Tanpa orang tua. Belum beristri dan belum beranak. Jadi tanggungannya ialah dirinya sendiri.

Tetapi jika hanya untuk menghindari “tipu daya” para perempuan, jika dikatakan demikian, mengapa ia memilih penjara? Mengapa tidak memilih pindah kota saja? Keluar dari kota sekarang dan memulai hidup baru. Apakah karena ia masih “terikat” kontrak karena ia semula merupakan seorang budak? Budak yang kemudian dimerdekakan lantas merasa berhutang kepada majikannya. Atau bagaimana?

Apakah ia dikhawatirkan jika sekalipun pindah ke kota lain, kasusnya akan kembali terulang, para perempuan tergoda pada dirinya? Bisa jadi kota tersebut lebih kejam sehingga bukan hanya dipenjara hukumannya, tapi dihukum mati. Jika demikian, mau sampai kapan ia berpindah-pindah kota? Seakan lari dari sesuatu, padahal lari dari dirinya sendiri. Lari dari kegantengan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, ia memilih penjara. Walaupun dengan demikian, nama baiknya bisa tercemar. Bukankah kehidupan sosial memang demikian? Meskipun segudang kebaikan pernah dilakukan seseorang, begitu satu kejelekan dilakukannya maka kejelekan tersebut yang lebih diingat. Persis seperti kata pepatah.

Rusak susu sebelanga gara-gara nila setitik.

Dengan catatan pernah dipenjarakan, maka hal tersebut akan terpatri pada kehidupan sosialnya. Meskipun seseorang sudah bertobat setelah dipenjarakan, tetapi karena “cap” tersebut melekat di dahinya, maka ia akan dicap tetap sebagai kriminal. Lantas alih-alih berbuat baik, ia justru kembali ke tindak kriminalnya seakan mengamini masyarakat yang sudah mencapnya.

Tetapi sejatinya bukan demikian yang terjadi pada Yusuf. Setelah dipenjarakan, masyarakat menyadari bahwa mungkin demikian (dipenjarakan) lebih baik baginya. Menjauhkan dirinya dari fitnah. Sekaligus (mungkin) membuat “cap” baginya sehingga ketika ada perempuan yang tergoda karena kegantengannya, ia segera ingat bahwa Yusuf pernah di penjara. Pernah “menjadi” bang napi.

Yah, mungkin. Semua di atas hanyalah mungkin. Kemungkinan yang sedikit terbersit di benak saya.

Rumah, 25 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

2 comments

  1. Nila itu sebenarnya apa ya? pewarna kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram