Breaking News
Home / Opini / Kenaikan Kuota Haji Merupakan Keniscayaan

Kenaikan Kuota Haji Merupakan Keniscayaan

Dalam sebuah pidatonya, Presiden RI menargetkan jumlah wisatawan mancanegara di tahun 2019 sebanyak 20 juta orang. Sejauh apa sih target yang dipasang tersebut? Apakah Indonesia yang diwakili Kementerian Pariwisata bisa mencapai target tersebut? Sebagai pembanding, jumlah wisatawan mancanegara di tahun 2015 sebanyak 10,4 juta. Masih ada PR meningkatkan 2 kali lipat jumlah tersebut selama dalam 2 tahun terakhir.

Indonesia yang memiliki kekayaan dalam keragaman hayati dan budaya, tentu menginginkan “produk” tersebut dapat “menjual”, di samping kekayaan tambang dan mineral. Bayangkan saja, penerimaan devisa dari pariwisata di tahun 2015 sebesar Rp 163 triliun. Dengan jumlah wisatawan mancanegara tersebut, maka rata-rata wisawatan mancanegara mengeluarkan uang Rp 15,6 juta per kunjungan.

Semakin banyaknya jumlah wisatawan, maka semakin besar pula pundi emas yang mengalir masuk. Ibarat tangan tinggal “menengadah” saja untuk menerimanya. Bersyukurlah para pelaku bisnis di bidang pariwisata. Pemerintah sudah gencar mempromosikan pariwisata di Indonesia.

Sejalan dengan Indonesia, Arab Saudi juga demikian. Bedanya, mereka tak perlu susah-susah mempromosikan potensi pariwisatanya. Berterimakasihlah pada doa Nabi Ibrahim yang menjadikan Tanah Suci sebagai destinasi religi seluruh dunia. “Melawat” ke Tanah Suci merupakan sebuah kewajiban (bagi yang mampu), salah satu dari Rukun Islam, untuk umat Islam.

Tanah tandus, yang Siti Hajar berlari bolak-balik antar dua bukit untuk mencari air bagi anaknya Ismail, mampu menarik begitu besar jumlah wisatawan mancanegara setiap tahunnya. Bahkan saking banyaknya, mereka membatasi “wisatawan” yang masuk untuk setiap negara. Sampai tulisan ini dibuat, kuota haji untuk Indonesia di tahun 2017 adalah sebesar 221 ribu orang.

Jika Arab Saudi juga melihat pariwisata sebagai salah satu potensi penerimaan terbesar negara layaknya Indonesia, maka kenaikan kuota haji merupakan keniscayaan. Sebagai pembanding, penerimaan devisa Indonesia dari sektor pariwisata di tahun 2015 menempati posisi ke empat terbesar yaitu USD 9,6 Miliar. (Harapan di tahun 2020, sektor pariwisata menjadi potensi penerimaan devisa terbesar). Sedangkan hasil ekspor minyak dan gas bumi menempati posisi pertama yaitu sebesar USD 15,7 Miliar.

*sumber data statistik disarikan dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Tahun 2015

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram