Breaking News
Home / Curhat / Keluar dari Zona Nyaman

Keluar dari Zona Nyaman

“Keluar dari Zona Nyaman” begitu kata motivator kepada para auiden yang mayoritas karyawan. Dengan dalih hidup menjadi karyawan menjadikan seseorang terlena apalagi jika “gaji” sebagai tujuan utama bekerja sudah flat, apapun yang dilakukannya.

Paling tidak ada dua alasan mengapa “keluar dari zona nyaman” menjadi pilihan. Satu, masa depan yang “terlihat” lebih cerah. Dan dua, kondisi sekarang yang “mengekang”. Ibarat burung yang berada di sangkar emas. Semua kebutuhan dipenuhi tapi satu yang tidak dimilikinya, ruang baginya untuk “terbang”.

Bukankah burung terbang untuk mencari makanan? Jika makanan sudah disediakan dalam sangkar emas, lantas buat apa bersusah payah terbang mencarinya? Bukankah begitu? Tapi di sisi lain, ia memiiki dua sayap. Lantas buat apa dua sayap ini jika tidak untuk terbang? Karena sayap pun tak bisa digunakan untuk menyuap makanan.

Keluar dari zona nyaman bukan berarti semata-mata “keluar”, pergi begitu saja, kabur, tanpa sekalipun menoleh lagi ke belakang. Karena jika demikian, tak ada bedanya dengan pemberontak dan menyuarakan ketidaksetujuannya dengan “angkat kaki” dan “cuci tangan”.

Keluar dari zona nyaman, itu bisa menjadi tindakan yang “cantik” jika dikemas dengan bungkus yang juga “menarik”. Katakanlah, “Saya tidak bisa melanjutkan di sini lagi, Pak. Saya ingin lebih mengembangkan skill di luar.”

Mengapa? Karena belum ada jaminan ketika di luar juga senyaman dengan di dalam. Beda jika kondisinya adalah “dibajak”. Tentunya sudah ada jaminan yang lebih “prestisius” dari si “pembajak”.

Maka, keluar dari zona nyaman harus diimbangi dengan meninggalkan “nama” yang baik. Untuk apa? Bukan hanya “kesan pertama” yang dikenang, tapi “kesan terakhir” juga akan membekas.

Fase perjalanan keluar dari zona nyaman bisa jadi tak menentu. Tak jarang, penyesalan menghantui. “Kenapa saya memilih keluar di saat apa yang saya butuhkan sudah terpenuhi?” Dan penyesalan ini akan sangat menganggu karena bersama penyesalan, datang juga keluhan demi keluhan.

Cara termudah dan tercepat (sekiranya demikian) adalah segera mengibarkan bendera baru ketika menginjakkan kaki di zona yang baru. Untuk apa? Hanya semata-mata untuk memotivasi diri, merebut kembali semangat yang sempat luntur ketika didera penyesalan.

Kibarkan bendera setinggi-tingginya sehingga bukan hanya orang yang melintas yang melihat, tapi dari orang dari zona nyaman tadi juga melihatnya. Biarkan bendera itu berkibar-kibar dibawa angin. Berkibar, beserta rasa penyesalan yang “tak sengaja” terlempar kepada orang di zona nyaman. “Mengapa tak ku pertahankan dia?”

Hati-hati! Masih ingat peribahasa “semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin menerpa”? Dan puft! Begitu juga dengan benderamu. Tetapi bukankah itu konsekuensi dari keluar dari zona nyaman?

Rumah, 9 Oktober 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram