Breaking News
Home / Opini / Keasyikan Makan Piring Teman

Keasyikan Makan Piring Teman

Pesantren itu memiliki kenikmatan tersendiri, terutama ketika makan. Kenikmatan makan tidak hanya ditambah dengan bumbu “rasa lapar”, tapi juga dengan kebersamaan. Meski menu tak selalu membuat air liur membanjir, tapi tak ada pilihan lain kan? Menikmati apa yang sudah tersedia merupakan bentuk kesyukuran. Dan itulah salah satu ajaran tersirat di pesantren.

Makan bersama di piring masing-masing, tak lantas membuat para santri melirik piring temannya. Meski terkadang, sambalnya lebih banyak atau cuilan daging yang lebih banyak. Paling hanya menyeletuk, “Wah enaknyaa, (cuilan) dagingnya lebih banyak. Mesti punya pacar mbak dapur ya?”. Tidak serta merta merebut isi piring temannya.

Tapi sekarang banyak orang yang alih-alih melirik “isi piring” temannya, juga “mencicipi” apa yang dimakannya. Mencicipi tak ada salahnya, tetapi lantas mencela itu yang kurang “sopan”.

“Yek, asin?! Kamu tambahi kecap gih, biar lebih manis!” Padahal selera orang berbeda-beda. Bisa jadi dengan satu cabai saya sudah kepedasan, sedangkan anda dengan lima cabai rawit masih terasa hambar.

“Ini kamu beli di mana?”

“Di warung A.”

“Warung A?! Bukannya di sana masaknya pakai banyak micin  ya?”

Tak cukup hanya mencela makanannya, celaan juga merambat hingga “siapa” yang memasak.

“Eh tahu ndak, kalau warung A itu gorengnya pakai plastik dicelupin juga ke penggorengan. Belum lagi ditambah aji-aji penglaris biar ramai pembeli,” berapi-api sekali.

Jika tidak terima karena warung langganannya dicela, ia membela. Sekedar mengklarifikasi rumor yang didengar temannya tersebut hanya sekedar kabar burung, entah burungnya siapa.

Merasa “dikandaniog” (diberi tahu) kok malah tidak percaya, bukan lagi apa yang dimakan dan siapa yang memasak yang dicela, tetapi juga temannya sendiri juga ikut dicela. “Lhoh, kamu ini lho dibilangin kok malah ngeyel. Saya lho dikasih tahu sama warung sebelahnya (warung B yang notabene memasak apa yang dimakannya sekarang).”

Baginya (yang makanannya dicela), pembelaannya sia-sia karena “kedunguan”, ia lanjutkan makannya. Sesuap demi sesuap sambil abai mendengarkan temannya masih mengoceh. Kocehan yang lantas mengatakan apa yang dimakan ternyata mirip dengan masakan di warung C, ini pasti konspirasi antek wahyudi, permason, dan iluminasi.

Sampai akhirnya makanan di piringnya habis dan berseru ke temannya tadi, “Oi, makanmu kok lambat amat?! Ayo buruan! Keburu ruang makannya ditutup nih.”

PS: Ada orang yang terlalu asyik mengomentari makanan di piring orang lain. Orang yang kayak gini ada. Banyak.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram