Breaking News
Home / Nalar / Kaum Gumunan

Kaum Gumunan

Mungkin dalam selancar kita di dunia maya pernah menemui foto-foto yang tampak ajaib. Sebagai contoh pegunungan yang membentuk kontur wajah jika dipandang dari samping, telinga bayi yang membentuk lafal Allah, awan yang menyerupai sepasang bola mata, batang pohon yang bercabang membentuk lafal Allah, dan sebagainya.

Dengan ditambahi sedikit “bumbu” caption foto yang bernada “kuasa Ilahi”, membuat kita berdecak kagum sembari mengucap lafal-lafal thayyibah semacam Masya Allah, Subhanallah, dan Allahu Akbar. Tak salah dengan ucapan tersebut, apalagi jika hal tersebut (pengucapan lafal) sudah menjadi reflek. Bersyukurlah. Lantas apa yang salah?

Melihat sesuatu yang ajaib tersebut membuat kita melupakan nalar. Nalar yang menyaring segala informasi yang diterima. Informasi yang begitu masif tak terbendung. Belum lagi begitu mudahnya kita mengakses informasi-informasi tersebut. Ada yang memang benar-benar menambah wawasan, tapi tak sedikit yang hanya sampah belaka. SAMPAH. (saya menulis kata “sampah” ini dengan menekan tuts keyboard KUAT-KUAT).

Ajaib. Manusia normal tentu haus dengan sesuatu yang ajaib. Saya pun demikian. Masa kecil saya sempat menenggak informasi-informasi mengenai ufo, astral, segitiga bermuda, atlantis, Area 51, reinkarnasi, dan semacamnya. Belum lagi orang tua yang mendukung dengan menyuplai buku-buku yang bernada serupa. Lengkap sudah. Puas? Belum. Jauh dari rasa puas. Karena semua itu masih misteri. Jika tidak lagi menjadi misteri, lantas apa menariknya?

Masa kecil saya belum terpapar internet maka informasi yang saya miliki hanyalah sebatas dari buku yang saya baca. Kalaupun ada informasi tambahan dari selentingan “katanya”, itu ya hanya “katanya”. Tanpa dasar. Apalagi dari teman sebaya. Teman sepermainan. Teman seumuran. Dan seingat saya, belum ada teman yang bisa saya ajak diskusi mengenai ketertarikan saya di masa itu.

Sekarang, ketika informasi begitu mudah didapatkan. Dibagikan gratis tis tis. Justru melahirkan Kaum Gumunan. Sedikit sedikit gumun. Melihat yang berbeda sedikit, gumun. Melihat awan yang begitu abstrak dengan sedikit garis-garis yang sengaja dibuat, bisa gumun. Apa-apa gumun.

Saya jadi membayangkan jika Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi, juga termasuk Kaum Gumunan, mungkin beliau langsung percaya bahwa matahari adalah Tuhan.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram