Breaking News
Home / Nalar / Kapitalisme? Neo Kolonialisme? New World Order?

Kapitalisme? Neo Kolonialisme? New World Order?

Tulisan kali ini akan puaanjang sekali. Terdiri dari 3 tulisan yg ku jadikan satu. Dua tulisan dgn topik agak berat yg ku salin persis dari grup diskusi email dan WA. Plus satu tulisanku sbg pembuka dgn bahasa yg jauh lebih ringan.

Tinggalkan jika tak ingin membaca

Ada satu pasar besar. D dalamnya banyak penjual yg menjajakan berbagai kebutuhan

Datang seorang pembeli. Ia berkeliling mencari barang2 yg d butuhkannya. Ternyata ad beberapa penjual yg menjual barang dgn harga yg relatif sama. Bimbang ia dibuatnya

Tiba2, satu dari penjual itu menurunkan harga barangnya. Apa yg akan terjadi? Ke manakah pembeli itu membeli? Bagaimana reaksi penjual yg lain?

Kasus berikutnya

Sudah menjadi prinsip umum. Jika barang laris, serta merta yg terjadi berikutnya adalah harganya akan naik. Begitu juga sebaliknya, jika barangnya susah terjual, maka harganya akan “dibanting”. Cuci gudang. Lepas murah

Sekarang contoh dibuat lebih luas

Ad sebuah tatanan dunia dgn uang sebagai alat tukar jual beli. Setiap (sekelompok) negara memiliki mata uangnya masing2. Nilai jual-belinya pun berbeda2. Lalu tiba2 ad negara yg menurunkan nilai mata uangnya. Menurunkan “harga”nya. Lalu apa yg terjadi?

Di sinilah kita akan mengenal istilah
Price war
Currency war
Devaluasi
Dollar menguat

Sekarang siapa yg salah? Penjualnya kah?
Sebelum menjatuhkan vonis bersalah, perlu ditelisik lebih lanjut dan muncul pertanyaan berturut2

Mengapa penjual tadi menurunkan harganya?
Seberapa besar dampak akibat ia menurunkan harga bagi penjual yg lain?
Apa keuntungan dr menurunkan harganya?
Dan seterusnya dan seterusnya

So? Masih perlukah memvonis siapa yg bersalah? Atau justru sebaliknya, bercermin dan menjatuhkan kesalahan pada diri sendiri karena “belum” berbuat apa2?

Siang ini saya ditunjukkan teman saya bahwa dollar menembus nilai 14.080

~DarmaOne

Tulisan kedua

Hati-hati “Sudden Shift”, Fenomena Perubahan Abad 21

Senin, 24 Agustus 2015 | 05:41 WIB
Oleh Rhenald Kasali

KOMPAS.com – Lima tahun yang lalu, mantan Dirut Pertamina, Ari Soemarno pernah menyampaikan sepotong data kepada saya. Itu tentang shale gas, yang kalau sampai kongres Amerika Serikat memberi lampu hijau untuk dieksplore dan diekspor, maka harga gas dunia akan turun.

Data itu rupanya segera direspons oleh para pemain saham yang mengakibatkan harga-harga saham perusahaan tambang batu bara kita anjlok. Mengapa demikian? Inilah gejala perubahan mendasar yang disebut 3S : “Sudden Shift, Speed dan Surprise!”

Sudden Shift

Daripada mereka-reka kapan dollar AS akan kembali turun, atau tenggelam dalam rasa takut yang besar bahwa PHK besar-besaran akan terjadi, lebih baik kita paham apa yang tengah terjadi, mengapa dan bagaimana meresponsnya.

Gejala ini kita sebut sudden shift (tiba-tiba berpindah). Faktanya, konsumennya tetap di situ, populasinya tetap besar (8 miliar jiwa), semuanya butuh makan, minum, transportasi, gadget, hiburan, dan sebagainya. Tetapi siapa yang menikmati perpindahan itu?

Sudah begitu, berpindahnya mengejutkan karena seakan tiba-tiba (sudden), cepat sekali (speed) dan membuat kita terkaget-kaget (surprise). Mengapa? Karena kita mengabaikan, kita menyangkal, kita gemar berolok-olok, berpolitik, bersiasat, berpura-pura menyelamatkan (padahal menyesatkan). Kadang mengatasnamakan rakyat pula, menghiburnya, berpura-pura seakan-seakan masalahnya ada di tempat lain.

Kembali ke shale gas, Ari Soemarno memberi tahu saya bahwa cost-nya sangat rendah, demikian harga jualnya, yakni ¼ dari harga jual gas konvensional. Saya membayangkan begitu informasi itu beredar, maka para pemakai minyak (oil) pun akan beralih. Maka harga minyak pun akan goncang. Lalu pada akhirnya, tambang energi lain akan terganggu: batu bara.

Di luar dugaan saya, ternyata batu bara terkena imbasnya lebih dulu, lalu baru minyak. Maklum harga kertasnya (saham) sudah lama dijadikanbubble, lagi pula ia sangat merusak lingkungan. Sekarang harga minyak dunia baru turun sekitar 50-60 persen. Para ahli menduga ia masih akan turun hingga sekitar 10 dollar AS (saat ini masih sekitar 47dollar AS) per barel.

Bisa dibayangkan kerugian apa yang akan diderita pengusaha-pengusaha minyak, kalau mereka tak berani merevolusi biaya-biaya “kenikmatan” yang selama ini sudah dirasakan para pegawai. Dulu, saat harga minyak di bawah 10 dollar AS per barel, mereka sanggup berproduksi dengan biaya 6 dollar AS per barel, tetapi begitu harga pasarnya 120 dollar AS per barel, mereka berproduksi dengan biaya 100 dollar AS per barel. Segala yang membuatnya mahal, akan membuat manusia meningkatkan biaya kenikmatan.

Zalora

Di Bandara Halim Perdanakusuma, saya menerima CEO Zalora Indonesia. Anak-anak muda tentu lebih tahu apa itu Zalora. Ini situs belanja online yang sedang digemari konsumen muda. Dengan belanja online, selain mendapat barang-barang baru, anak-anak muda bisa mendapat harga yang lebih murah.

Saat itu saya baru membaca data penjualan ritel Indonesia yang dilaporkan turun besar-besaran. Keadaan ekonomi pun kita persalahkan. Bahkan para politisi menduga adanya miss managementdalam pemerintahan.

Saat industri ritel konvensional melaporkan penurunan 3-4 persen, Zalora justru mengatakan omzet mereka naik 240 persen. “Dalam dunia online, kalau kami tumbuhnya di bawah 100 persen itu sama dengan kegagalan,” ujar mereka.

Saya pikir Zalora masih kecil. Tetapi bayangan saya kembali ke tahun 1998 saat semua orang dicekam rasa takut akibat gelombang PHK. Asing pun hengkang. Ketika para ekonom di FE UI masih berpikir keras bagaimana menciptakan iklim yang kondusif agar investasi asing kembali lagi, saya memilih untuk mendorong lahirnya entrepreneur lokal.

Saya masih ingat ejekan para ekonom yang mengabaikan kemampuan bangsa ini berwirausaha. Saya bahkan ditanya, apa bisnis yang akan diekmbangkan wirausaha lokal? Saya sebutkan nama-nama produk mereka: kacang (Garuda dan Dua Kelinci), herbal (Sido Muncul), kosmetik (Wardah), bola buatan masyarakat di Majalengka dan lain-lain.

Di luar perkiraan saya, mereka mempertanyakan, “Sampai kapan kacang dan jamu bisa menciptakan lapangan kerja? Yang bisa itu otomotif. Rakyat kita itu pegawai, bukan entrepreneur.”

Anda tahu berapa jumlah wirausaha kita sekarang? Jangan lagi mengatakan masih di bawah 1 persen. Kalau mereka yang sudah terlibat dalam sektor informal saja sudah 60 juta orang, bisa hitung sendiri berapa banyak orang yang sudah bergulat dalam bidang kewirausahaan.

Demikian juga dengan Zalora dan mereka yang bergerak dalam sektor ekonomi kreatif lainnya. Sekarang memang masih kecil. Tetapi mereka memiliki daya disruptif yang bisa menggerus para pelaku usaha konvensional.

Semua Shifting

Pergeseran konsumsi tak hanya terjadi dalam dunia energi dan belanja melainkan dalam konsumsi di segala bentuk kehidupan kita. Semuanya bergeser. Keseimbangan baru belum terbentuk, tetapi pindah-pindahnya mulai terasa.

Minggu lalu, 17 Agustus 2015, Indonesia-X baru saja meluncurkan situs belajar bebas biaya (massive online course) di mana Rumah Perubahan ikut di dalamnya.

Pernahkah anda membayangkan bahwa kampus-kampus besar sedang berjuang melawan perubahan? Ya, di seluruh dunia, bukan cuma surat kabar berbasis kertas yang kesulitan karena hadirnya media-media online, melainkan juga kampus–kampus yang kini ditantang dunia belajaronline.

Bahkan gelar akademis pun kini mulai ditinggalkan para kaum terpelajar dunia. Para pemberi kerja mulai melirik mereka–mereka yang tak bergelar. Dari “siapa kamu” ( atau “apa gelar akademismu”), dunia manajemen mulai beralih pada “apa yang bisa kamu lakukan”. Lihatlah di perusahaan- perusahaan besar, di kartu-kartu nama para pimpinan dan stafnya. Tak banyak lagi yang mencantumkan gelar akademisnya.

Gerakan masif ini membuat kaum muda beralih dari membeli degree (formal) kepada membeli keahlian dan paket–paket kursus, yang mereka ramu sendiri racikannya. Bukan lagi racikan akademik yang dibuat pemerintah karena mereka ingin membangun keahlian yang unik, yang tidak massal dan siap pakai. Dan pasar tenaga kerja global pun mengakomodir mereka. Apa yang bisa mereka berikan di dunia kerja bukan lagi rangkaian matakuliah racikan kampus.

Dan Indonesia-X menjadi pelopor belajar onlineyang heboh. Kelak Anda bisa mengambil kursus apa saja. Karena murah (gratis), switching cost nya menjadi rendah. Dan perubahan pun terjadi.

Gojek, Uber, Seven Eleven, dan lain lain.

Kalau anda belum puas dengan contoh–contoh di atas, maka pelajarilah segala fenomena di dunia transportasi, retail, telekomunikasi, trading,financing, dan sebagainya. Anda pasti akan menyaksikan gejala sudden shift ini.

Konsumen perbankan pun mulai meninggalkan kunjungan ke loket-loket bank. Mereka beralih kemobile banking. Pemakaian voice dalam berkomunikasi beralih ke cara-cara baru: data. Dari voice ke BBM, lalu pindah lagi ke Whatsapp dansocial media.

Sama halnya pertarungan sengit yang tengah dihadapi tukang-tukang ojek pangkalan vs Gojek dan Grab-Bike, atau taksi biasa Vs Uber. Semua mengalami gejala shifting.

Jadi, jangan melulu menyalahkan krisis ekonomi dunia. Karena krisis berdampak pada semua usaha dan kali ini terjadi luas di seluruh dunia. Yang jauh lebih penting bukan krisis itu sendiri. Bukan dollar AS, tetapi apa respons kita terhadap usaha yang kita jalani. Dan apa respons kita untuk mempersiapkan masa depan anak-anak kita dalam dunia yang benar-benar baru ini.

Kalau Anda diamkan, bukan krisis yang menghantam, tetapi persaingan baru melaluibusiness model yang benar-benar berbeda.

Lagi pula, krisis selalu menjadi alasan bagi kaum malas untuk berhenti bekerja, dan bagi mereka yang senang mencari kambing untuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya.

Selamat merenungkannya?

Sedikit ralat dr temenku yg kerja d Migas. Sebut saja bagus surya bahariSedikit koreksi biaya operasional migas belum ada yg sampai 100 USD/bbl seperti yg ditulis beliau, meskipun harga minyak sempat 120 USD/bbl tp biaya operasional migas rata2 untuk di darat sekitar 10 – 30 USD/bbls dan di lepas pantai sekitar 25 – 50 USD/bbls

Tulisan ketiga

Sun Aug 23, 2015 2:28 am (PDT) . Posted by:
“Paklung” paklunk

Copas dari tulisan Iman Supriyono M-33———— ——— ——— —Unilever

Oleh Iman Supriyono, Konsultan dan penulis buku-buku bisnis pada SNF Consulting

Lima ratus tiga puluh enam milyar. Rp 526 M. Itulah nilai uang royalti yang harus disetor oleh Unilever Indonesia atas pemakaian merek-merek milik Unilever NV Rotterdam tahun 2012 lalu. Itulah berita yang dirilis oleh Harian Bisnis Indonesia 9 April 2013. Jumlah itu masih ditambah dengan Rp 402 M sebagai biaya jasa. Total Rp 938 Milyar. Angkanya klop dengan laporan keuangan resmi eminten berkode UNLV yang menyebut total Rp 939,6 Milyar pada pos biaya royalti dan jasa. Selisih terjadi karena pembulatan.

Royalti harus dibayar karena Unilever Indonesia menggunakan merek-merek yang dimiliki Unilever NV Rotterdam. Ada banyak sekali merek yang hingga kini masih terus dipakai. Merek-merek milik perusahaan beromset 51 Milyar Euro itu sangat digemari masyarakat. Berikut ini beberapa diantaranya: Sunsilk, Lux, Axe, Rexona, Dove, Omo, Surf, Lipton, Blue Band, Walls, Paddle Pop, Royco, Sariwangi, Magnum, Pepsodent, Pond’s, Rinso, Sunlight, Close-up, Domestos, Vaseline, dan Lifebuoy. Saya hanya menuliskan merek yang dikenal disini. Masih banyak merek yang tidak dikenal atau tidak diedarkan di Indonesia.

Rp 939,6 M…..besar atau kecil? Mari kita bandingkan. Nominal itu setara dengan uang gaji UMR setahun dari 35 ribu lebih karyawan di Jakarta. Angka itu jauh lebih tinggi dari imbalan kerja dan remunerasi untuk karyawan Unilever Indonesia pada tahun yang sama sebesar Rp 140 Milyar. Besar sekali. Itulah uang yang harus ditanggung oleh konsumen atau masyarakat negeri ini untuk disetorkan ke Negeri Belanda sepanjang tahun 2012 lalu. Besarnya naik 25% dari angka tahun 2011 yang sebesar 754 Milyar. Makin tahun trend-nya terus naik. Makin tinggi.

[unilever brand indonesia]

Merek-merek milik Unilever NV Rotterdam yang harus dibayar royaltinya oleh para pemakai produk

Itupun baru Unilever NV. Masih banyak “kawan-kawan” perusahaan berkaryawan 171 ribu yang juga beroperasi di negeri ini. Bisa dibayangkan, tiap tahun trilyunan rupiah harus disetor ke negeri-negeri itu. Satu lagi ironi dari ibu pertiwi.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan- perumpamaan”.

Ayat ke 17 dari Al Qur’an surat Ar-Ra’d (surat ke 13) ini memberi inspirasi hikmah luar biasa terhadap permasalahan royalti merek di atas. Yang bermanfaat kepada manusia akan tetap ada di bumi. Unilever yang berdiri di negeri Belanda pada tahun 1930 adalah salah satu contohnya. Pelajarannya: sebuah merek produk bisa bertahan di muka bumi puluhan tahun tentu karena merek (tentu bersama produk dengan segala atributnya) benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Bagi umat manusia. Jika tidak, merek itu tentu sudah almarhum. Sudah tertelan jaman. Mati.

Jutaan masyarakat Indonesia tiap hari mendapatkan manfaat terus-menerus dari sampo Sunsilk, sabun Lux, sabun Lifebuoy, pasti gigi Pepsodent, detergen Rinso, detergen Surf, sabun cuci Sunlight, margarin Blue Band dan masih banyak lagi. Jika dalam sebuah hadits Nabi SAW menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, maka sebaik-baik merek (tentu beserta produk yang mengikutinya) adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia.

Lalu…apakah dengan demikian berarti kita terima begitu saja mengalirnya uang trilyunan rupiah tiap tahun utuk royalti merek-merek asing itu? Kita terimanya sebagai sebuah takdir? Bagi Anda para pelaku bisnis tentu tidak bisa seperti ini. Ibarat main bola, saat ini gaawng kita telah kebobolan. Nah, cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan segera bangkit dan kemudian membalas lebih banyak memasukkan bola ke gawang lawan. Susun strategi yang jitu sampai pada eksekusinya. Fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba membangun perusahaan yag mampu menghasilkan merek dengan produk yang bermanfaat kepada umat manusia di berbagai negara. Kita bangun anak perusahaan-anak perusahan untuk memasarkannya di berbagai negara. Kita susun program branding di berbagai penjuru dunia. Untuk akhirnya bisa mengalirkan uang royalti trilyunan tiap tahun ke induk perusahaan di negeri ini. Seperti aliran dana royalti dari unilever Indonesia kepada Unilever
NV di negeri belanda. Persis. Hanya aranya kita balik. Nominalnya lebih besar. Itulah kemenangan yang elegan. Tentu butuh kerja keras dan cerdas. Gooool!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya.

 Tulisan ini pernah dimuat di halaman facebook darmawan.rhs 24 Agustus 2015

 

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram