Breaking News
Home / Opini / Jurang Keingintahuan

Jurang Keingintahuan

Mungkin sudah hampir seminggu ini saya ndak menuruti kecanduan menulis. Bukan karena hampanya ide, justru sebaliknya. Ide membanjir. Banyak info yang bisa dijadikan bahan tulisan. Tapi saking banyaknya informasi yang datang, menjadikan proses seleksi kemudian memilah mana yang sebaiknya dikembangkan menjadi sebuah tulisan merupakan sesuatu yang melelahkan.

Semakin sering terjun di media sosial, mengamati postingan di lini masa yang lalu lalang, semakin terlarut dalam sesuatu yang sangat tidak produktif. Menjadi tidak produktif karena tidak ada yang bisa dipancing kemudian dijadikan obyek tulisan. Seandainya mengambil satu, kemudian melakukan riset kecil, mencari sumber yang valid, mengambil satu posisi, lantas melihat dari posisi yang lain, mungkin bisa lebih produktif.

Keasyikan di media sosial tidak selalu negatif (sebenarnya). Banyak informasi yang terkandung di dalamnya, terutama dengan kehidupan orang yang berada di daftar pertemanan, paling tidak apa yang dia pikirkan saat itu. Tetapi dasar manusia yang selalu ingin tahu menjerumuskan ia sendiri dalam jurang keingintahuannya tersebut.

Dasar manusia yang selalu ingin tahu menjerumuskan ia sendiri dalam jurang keingintahuannya

Facebook dengan kalimat di halaman utamanya yaitu “Facebook membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda”. Apa yang dibagikan tidak mengharuskan untuk kita ambil.

Saya jadi teringat cerita dosen sewaktu di kampus dulu. Beliau menceritakan bahwa membeli koran sama dengan membeli kemarahan. Informasi yang dibaca dari koran justru membuat beliau marah. Entah memang isi berita yang membuat geram atau gaya penulisan dan framing yang dibentuk oleh koran tersebut. Murah sih dengan rentang koran di harga empat sampai enam ribuan, jauh lebih murah lagi koran lokal yang hanya seribuan. Tapi jika karenanya justru membuat geram, untuk apa? Pengorbanan yang sia-sia. Mengorbankan uang ribuan hanya untuk kegeraman seharian.

Beranjak ke media sosial. Informasi menjadi semakin murah, bahkan gratis. Cukup bermodalkan paket data atau menumpang hotspot wifi gratis di tempat publik. Maka, semakin murah juga untuk mendapatkan “kemarahan”. Silahkan ambil cermin. Mungkin antara dua alis anda mengkerut karena geram membaca postingan orang dalam daftar pertemanan anda. Saya katakan “orang” karena belum tentu dalam daftar pertemanan anda memang teman anda bukan? Bisa jadi prospekan bisnis atau stalkingan xixixi.

Padahal postingan tersebut belum tentu buah pikir dari orang tersebut. Bisa jadi hanya sekedar membagikan ulang karena setuju dengan pemikiran tersebut. Tetapi bisa juga ada hasrat ingin merundung pembuat postingan tersebut.

Sebenarnya manusia bisa berhenti tepat sebelum masuk jurang keingintahuan, yaitu ketika membaca postingan tersebut. Tapi dasarnya manusia selalu ingin tahu, maka komentar-komentar dalam postingan tersebut pun dibacanya. Yang semula tak ada niatan untuk berkomentar, lantas berkomentar. Maka semakin dalamlah ia terjatuh dalam jurang tersebut. Belum lagi ketika komentar tersebut ternyata mengundang perdebatan. Sudah, anda menggali kubur dalam jurang tersebut.

Selamat datang dalam jurang tanpa batas.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram