Breaking News
Home / Opini / Jasa Cuci Otak GRATIS

Jasa Cuci Otak GRATIS

Sering saya dapati pesan berantai yang memiliki struktur demikian: Judul – Nama penulis – Isi – Biodata singkat penulis – Pesan untuk membagikan.

Judul pesan berantai itu dibuat semenarik mungkin, sebagai contoh: Kiamat Akan Terjadi Tahun Depan; Bumi Akan Berputar dari Barat ke Timur; dan sebagainya. Agar lebih “mencolok” mata, maka digunakan huruf kapital. Tujuannya sederhana, agar penerima pesan berantai meluangkan waktunya untuk membaca tulisan yang “sedikit” panjang.

Nama penulis diembel-embeli dengan titel yang berkharisma. Katakanlah ada embel-embel Profesor, Kyai Haji, atau semacamnya. Tak jarang jika nama yang digunakan dicomot dari Negeri Antah Berantah, John Cena, Andre Lepis, atau semacamnya. Seakan-akan membuat pembaca semakin yakin bahwa ini tulisan dari “orang pinter”. (Iya, pinter ngibul).

Nah, untuk isi ini kelihaian dari penulis yang dimasukkan. Menggunakan penalaran “thuk-gathuk” dan cocoklogi. Selama penalarannya masuk, berita dan kejadian di sekitar mendukung, maka orang bisa “mempercayai”. Kalau boleh saya katakan, “tercuci” otaknya.

Sebagai penguat. Sedikit biodata penulis dicantumkan di akhir. Profesor di universitas Andromeda. Kyai di Padepokan Pesantren. Manajer Direktur di Perusahan Odong-odong. Tentu nama instansi yang digunakan merupakan nama instansi terkemuka sehingga semakin meningkatkan kredibilitas penulis. Ujungnya adalah meningkatkan kevalidan dari isi tulisan.

Di akhir, ada imbauan agar pesan dilanjutkan ke rekan yang lain. Tidak berhenti di ponsel anda. Maka, tanpa pikir panjang anda akan mudah memforward pesan tersebut. Apalagi ada embel-embel agar ilmu bermanfaat, pahala jariyah, dan tiket masuk surga. (Enak sekali masuk surga hanya dengan memforward pesan, tiket auto surga)

Memang benar ada sebuah hadits yang mengatakan, “Lihat perkataannya, jangan lihat yang mengatakan.” Matan (isi) dari hadits tersebut baik. Tetapi bukankah hadits tersebut “dhoif” (lemah)?!

Pertama kali saya dapati hadits tersebut ketika saya mengenyam pendidikan di pesantren. Kala itu, mahfudhot merupakan kata-kata bijak yang memotivasi. Sebagai contoh, “Man jadda, wajada”. Asyik kan ya? Menghafal berbagai macam mahfudhot. Tak perlu tahu siapa yang menciptakan kata-kata bijak tersebut, selama itu apik dan memotivasi, so what?!

Tetapi dengan kemajuan teknologi, perang tak lagi hanya adu senjata, tetapi juga perang pemikiran (ghazwul fikr). Jasa pencucian otak dibagikan gratis. Bahkan tanpa diminta. Menyelusup ke balik bantal. Ke dalam kotak televisi. Ke pesan berantai.

Tanpa kita sadari pula, otak kita tercuci. Bukan hanya tercuci, kita juga membantu mencuci otak teman-teman kita. Betapa mulianya!

Sudahlah. Saya sendiri seringkali menampik jasa cuci otak ini. Berusaha menyetop peredaran jasa cuci otak ini dari pesan berantai yang masuk inbox saya. Terkadang pula, saya buat klarifikasi dari maksud pencucian otak ini. Tapi apa yang saya dapat? Hanya lelah, karena begitu masifnya jasa cuci otak ini.

Gratis sih. Siapa yang tidak suka barang gratisan?!

Belum lagi jika jasa cuci otak ini membawa-bawa agama. Tentu dengan harapan “membakar” semangat jamaahnya. Rasanya lisan ini ingin menyumpah serapah. Membakar semangat sih membakar semangat. Tapi ya bukan begini caranya.

Apa kata orang jika pengikut agama ini mudah diprovokasi dengan jasa cuci otak remeh temeh?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram