Breaking News
Home / Nalar / Investasi Bodong

Investasi Bodong

Ingat hukum ketiga Newton? Bagaimana jika hukum Fisika ini diterapkan justru bukan di ilmu eksakta?

Investasi merupakan kegiatan mengalokasikan sejumlah dana pada aktiva produktif untuk digunakan di masa datang. Aktiva produktif ini bisa jadi aset yang harganya bertambah seiring dengan waktu, contoh: tanah, rumah, bisnis start-up, atau fermentasi anggur.

Katakanlah saya berinvestasi dengan membeli sebidang tanah seharga 15.000 per meternya. Harapannya adalah sepuluh tahun mendatang harganya sudah naik menjadi 150.000 per meter. Eh ternyata, baru berjalan lima tahun, dibangun sebuah pabrik berjarak 300 meter dari tanah tersebut. Dan puft, tanah saya ditawar orang dengan harga 300.000 per meter. Berapa keuntungan yang saya dapat?

Katakanlah tanah tadi enggan saya jual dengan harapan ada orang lain yang menawar lebih dari 300.000. Mungkin tahun depan bisa menjadi 500.000. Tapi, siapa yang bisa melihat masa depan? Tahun depannya, ternyata tanah saya masuk dalam peta pembangunan pemerintah daerah yang akan membangun jalur lingkar kota. Tentunya pemerintah setempat sudah punya anggaran standar sehingga tanah saya hanya ditawar dengan harga 200.000 per meter. Seketika penyesalan menggelayuti, mengapa tak ku jual saja tahun lalu ketika ditawar 300.000?

Investasi tentu membawa (harapan) untuk merengkuh keuntungan. Tentunya diiringi dengan (sedikit) strategi dan kesabaran. Tapi bukan hanya itu saja. Ada risiko yang juga melekat pada investasi. Mari kita telaah sedikit contoh di atas.

Beli tanah 15.000 berharap naik 10 kali lipat dalam setahun. Baru lima tahun ditawar 300.000. Dua kali lipat harapan keuntungan hanya dalam setengah dari waktu yang diharapkan. Seketika, harapan kita melambung. Target yang hanya 150.000 dinaikkan menjadi 500.000. Tahun depannya ternyata hanya laku 200.000 seketika harapannya hancur. Rugi? Masih ingat target di awal yang hanya 150.000? Itupun dalam jangka waktu 10 tahun. Saya tanya lagi. Rugi?

Antara (harapan) keuntungan dengan risiko tentu ada hubungan yang positif. Semakin besar (harapan) keuntungan yang ditawarkan, tentu risikonya juga semakin besar. CAMKAN INI!

Maka jika ada investasi yang menawarkan keuntungan berlipat-lipat, risikonya pasti setara dengan (harapan) keuntungan.

Ingat kasus Dimas Kanjeng? Beli “dapur ATM” dengan harga 250.000 lantas darinya dapat “memasakkan” 5 juta tiap hari. Jika umur “dapur ATM” tersebut katakanlah hanya 10 hari maka ia bisa “memasak” sampai 50 juta. Itu berarti keuntungan sebesar 200 kali lipat. Kira-kira berapa besar risikonya?

Sekali lagi? Ingat hukum ketiga Newton kan?

Rumah, 4 Oktober 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram