Breaking News
Home / Nalar / Inovasi dengan Menangkap Mimpi

Inovasi dengan Menangkap Mimpi

Berada di dalam divisi riset dan pengembangan selalu dituntut inovasi, inovasi, dan inovasi. Inovasi dapat berupa perbaikan dari yang sebelumnya atau sesuatu yang benar-benar baru.

Di sinilah tantangannya ketika ingin membuat sesuatu yang baru. Tidak ada standar baku dan bisa jadi belum ada pesaingnya sehingga tak perlu takut memasang harga “berbeda”.

Tetapi sesuatu yang baru belum tentu dapat dipasang harga yang tinggi karena inovasinya. Bisa jadi sesuatu yang baru itu memiliki barang substitusinya. Katakanlah “tahu”, barang substitusinya ialah “tempe” dan seterusnya dan seterusnya. Sehingga dalam membuat sesuatu yang baru sering terkendala pertanyaan, “Mampukah ini diproduksi massal?”

Membuat sesuatu yang baru kata kuncinya ialah menangkap keinginan pasar. Merealisasikan “mimpi” pengguna yang belum terjamah. Jika kita menilik sedikit sejarah Sony dalam penciptaan Walkman.

Nobutoshi Kihara menangkap bagaimana setiap orang bisa menikmati lagu tanpa mengganggu orang lain dan yang terpenting dapat dibawa ke mana-mana. Jika saat itu jamak dikenal mini compo, tetapi suaranya tentu dapat mengganggu orang lain. Lantas, muncullah ide Walkman.

Nah, menangkap keinginan pasar bisa jadi sesuatu yang rumit karena “mimpi” merupakan hal yang gaib. Belum lagi jika seseorang belum sadar apa sih “mimpi” yang dimilikinya. Belum tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Maka tugas divisi riset pengembangan adalah “mencongkel” mimpi tersebut dan merealisasikannya. Tentu dengan bantuan divisi marketing.

Kita mengenal istilah prototype, purwarupa yang didemokan ke masyarakat dengan harapan selain “test the water” juga mengumpulkan feedback dari pasar. Apa yang kurang. Apa yang dapat ditambahkan.

Cara lain dapat menggunakan, lemparkan saja pertanyaan apa keinginan pasar. Sisanya tingal memilih dan memilah mana dari keinginan tersebut yang dapat direalisasikan dan diproduksi massal. Ini merupakan bentuk dari brainstorming sekaligus melihat potensi pasar.

Berbicara mengenai tulisan ini, saya sempat mencoba membuat inovasi-inovasi yang sekiranya bisa terjual dengan mudah di pasar. Tetapi usaha yang saya keluarkan ternyata tak sebanding dengan harapan. Banyaknya inovasi yang sudah susah dibuat ternyata tidak laris. Bisa jadi apa yang saya tawarkan ternyata tidak menjawab keinginan pasar.

Lantas strategi kedua saya adalah melempar pertanyaan kepada pasar. Dan voila, saya tak lagi perlu menangkap “mimpi” mereka karena dengan sendirinya mereka yang melemparkan “mimpi”nya kepada saya. Begitu banyaknya sampai saya barus melakukan riset yang lebih dalam untuk menjawabnya.

Rumah, 10 Oktober 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram