Breaking News
Home / Curhat / Ikut Perang “Pemikiran” (Ghazwul Fikr)

Ikut Perang “Pemikiran” (Ghazwul Fikr)

Tahun 2000-an, di mana saya masih berada di bangku sekolah menengah pertama. Kala itu ada diskusi ringan antara ustadz dengan sekelompok kecil murid. “mentoring”, begitulah sebutannya. Materi yang diangkat ialah Ghazwul Fikr

Ghazwul FIkr yang jika diterjemahkan menjadi “Perang Pemikiran” menjadi topik yang terngiang-ngiang saat itu bagi saya. Bagaimana tidak? Masa tersebut termasuk fase di mana saya masih mencari-cari “identitas”. Mana yang perlu saya “pegang”, mana yang perlu “hanya tempe tahu”. Fase di mana masih memilah-milah mana yang “baik” dan mana yang “lebih baik”. (Tentunya sampai sekarang juga “masih”)

Maka topik Ghazwul Fikr ini menjadi sangat menarik. Perang tak lagi mengenai adu tembak dan adu jotos. Meskipun di banyak negara masih terjadi perang, tapi di lingkungan saya, Indonesia secara umum, perangnya bukanlah adu senjata (lagi). Tapi lebih “menusuk” dari pada pedang tajam. Lebih “membabi-buta” daripada segenggam granat. Dan lebih “masif” dari serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Perang tak lagi berbunyi gedebam gedebum di luar rumah. Tak seberisik pesawat tempur yang membawa peluru kendali. Tak ada sirine yang mengingatkan masyarakat. Ia datang begitu saja. Tanpa ada yang tahu, bahkan dari benda yang selalu kita bawa. Ponsel pintar.

Senjata yang diperjualbelikan bukan lagi AK47 atau SS1 karya anak bangsa. Tetapi senjata yang canggih justru “dibagi-bagi” gratis. “INFORMASI”.

Dan di sinilah serunya perang tersebut. Karena setiap orang bisa “menembak” maupun “ditembak”. Tetapi juga setiap orang bisa “kebal” dengan tembakan tersebut. Meskipun demikian, belum tentu orang di sekitarnya juga “kebal” seperti dirinya.

Di luar sana orang meneriakkan JIHAD dengan menghalalkan bom bunuh diri dan menyerang bahkan warga sipil. Ah, salah siapa ini sehingga kata JIHAD melekat pada BOM BUNUH DIRI?!

Perang pemikiran bisa jadi lebih “kejam” karena ia tak memilih pemainnya. Tak perlu syarat umur 17 tahun terlebih dahulu. Bahkan anak berusia 2 tahun pun bisa turut andil dalam perang tersebut.

Bayangkan anak baru khatam minum ASI sudah pandai dengan “tablet”nya. Mengayun-ayunkan jarinya melempari burung berwarna merah untuk mengancurkan bangunan-bangunan babi. Ia juga pandai membawa samurai untuk membelah buah-buah yang berterbangan ke arahnya.

Ah, perang pemikiran. Mau tak mau, saya harus ikut “perang”.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram