Breaking News
Home / iseng / .:: Ikan, Kamera, dan Bumerang ::.

.:: Ikan, Kamera, dan Bumerang ::.

Ikan Melompat

Keluar dari zona nyaman. Berat. Tapi bukan mustahil. Jika ungkapan tersebut dicari dalam mesin pencarian Google, beberapa gambar yang muncul adalah seekor ikan yang berusaha meloncat dari satu kolam ke kolam lain. Maka, ku ambil contohnya demikian.

Ada seekor ikan, hidup damai dalam kolamnya. Makan terjamin. Kebersihan kolam pun juga. Dijaga pula gelembung air di dalamnya. Suatu hari, sang ikan melihat ada kolam lain di luar kolamnya. Tampak baginya kolam di luar sana, lebih indah, nyaman, besar, bahkan ada temannya.

Ia gelisah. Berputar ke sana kemari. Mencoba mencari akal bagaimana bisa pindah ke kolam di luar sana. Padahal ia tak tahu, bagaimana kondisi kolam di luar sana. Mungkin airnya lebih panas. Atau justru air asin. Atau bisa jadi ada predator yang akan memangsanya. Ia tak tahu. Toh besar kemungkinan terjadi pembiasan cahaya yang menyebabkan apa yang tampak olehnya bukanlah yang sebenarnya (lihat fenomena pensil bengkok bila dicelupkan sebagian dalam air)

Muncul dilema. Ia nyaman dengan apa yang dimilikinya saat ini. Tetapi di sisi lain, ia ingin keluar dari zona nyaman tersebut. Maka dibuatlah “ketidaknyamanan” agar ia segera pindah dan melupakan kenyamanan di kolamnya saat ini. Mungkin bagi yang pernah menonton acara Finding Nemo, adegannya sama persis ketika Nemo berusaha menyumbat aquarium dokter gigi :D.

Dan yah, itulah yang kulakukan akhir-akhir ini :p. Membuat ketidaknyamanan. Bukan hanya buatku sendiri, tapi juga beberapa yang lain ku “racuni” :p. Cukup intermezonya. Let me tell you my story 😀

Kamera yang Terbengkalai

Dua tahun lalu, ada sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang hidup segan matipun tak mau. Ada anaknya. Banyak. Jalan. Hanya saja tak terarah. Ada pembimbingnya. Tapi mbuh-mbuhan :p. Tak ada lagi sensor maka ku sebut saja klub fotografi. Berisikan dengan anak-anak yang dimodali orang tuanya dengan kamera DSLR canggih. Sebut saja angka minimal 6 juta perak. Dan menjadi klub elit karena peralatan yang digunakannya

Setiap ada kegiatan, mereka ini beraksi. Jepret sana. Jepret sini. Kadang bergerombol. Jarang sekali menyebar. Apalagi berani untuk maju ke depan. Mengambil foto close-up. Saya yang melihatnya aja geregetan. Selesai acara. Selesai pula kegiatan mereka. Akhirnya ku ambil alih paksa. Tanpa permisi dengan pembimbingnya. Tanpa permisi pula dengan prosedur dan birokrasi

Ketua klub ku panggil. Ku beri tugas menyetor foto setiap hari minimal 10. Entah foto apapun itu. Lebih baik jika memotret santri yang sedang berkegiatan. Entah itu sedang antri makan, bela diri, sampai anak ketiduran di masjid pun diambil saja

Waktu berselang. Ku tagih permintaanku. Ada saja alasannya. Entah belum ditransfer ke komputer, entah apalah. Sudah lupa ku mengingatnya. Bah. Ya sudah. Ra urus. Padahal niatku mempopulerkan mereka dengan cara mengupload berkala hasil karya mereka dengan tagar matasantri

Toh bukan diriku pembimbingnya. Toh ndak ada serupiahpun masuk ke kantongku. Toh. Toh. Toh. Biarlah. Sesuka mereka. Sesukanya sistem juga. Masa bodo. Padahal jika itu berjalan. Bisa mengubah “sedikit” persepsi pesantren itu seperti penjara. Mengubah persepsi pesantren itu sarang teroris. Mengubah persepsi senioritas merajalela di pesantren. Dan berbagai persepsi negatif lainnya

Belum lagi para alumni yang bisa bernostalgia dengan kenangan di pesantren. Atau wali santri yang menjadikannya sebagai “tombo kangen” dengan anaknya. Dan masih banyak lagi. Sisanya bakal menjadi snowball effect. Sayang. Mereka tak mau. Dan ku tak punya “sponsor”/pendukung. Ya sudah. Buat apa ku berlelah-lelah :p.

FanPage Menjadi Bumerang

Ada fanpage lembaga yang diaktifkan kembali setelah vakum selama setahun lamanya. Dengan harapan dapat menarik pendaftar. Kontennya hanya satu. Iklan pendaftaran. Just one. Dan aaaah ini bisa jadi “senjata”ku *evilishsmirk

Beberapa kali ku sempat kecewa. Entah karena usulan tak sampai. Suara tak terdengar. Aspirasi tak tertampung. Beberapa kali pula pendapat disampaikan face to face. Tapi ah, siapa yang menjadi saksi ketika itu hanya menguap. Tak berbekas.

Beberapa media lain ku coba, mulai dari forum diskusi di dunia maya maupun nyata. Ku sampaikan “keherananku”. Yang ternyata representasi dari mayoritas. Hanya tak tersuarakan. Atau tak didengar. Aku provokator. Menebar “api” dalam sekam. Jahat. Tapi tak takut. Tak takut jika dikeluarkan sewaktu-waktu :p

Dibangkitkannya kembali fanpage itu berarti berada di zona perang yang ku kuasai 😁. Ku tebar pembangkitan kembali itu ke alumni maupun wali santri yang kehilangan media penyalur aspirasi. “ini ada media baru. Ayo diramaikan. Menumpahkan uneg-uneg yang tak tersampaikan”. Dan boom. Jadi bumerang.

Tak butuh waktu lama. Tinggal menunggu waktu saja, postingan yang tak dikehendaki pasti dihapus admin. Seperti yang pernah dilakukan dengan postingan-postinganku.

Hahaha. Lucu. Begitu lucu. Seandainya mereka tahu bagaimana meng-counternya. Tak perlu repot-repot menghapus kritikan yang pedas. Menghalau bumerang terlempar kembali. Kemarilah. Ku beritahu caranya. Itu jika dan hanya jika kau ingin mendengarkan suaraku. Suara seorang pengabdian yang dipandang sebelah mata 😜

Ah. Tak perlu ku beritahu. Jika membaca tulisan ini dari awal hingga akhir. Kau sudah bisa menebak bagaimana caranya. Menjadikan fanpage sebagai sebuah “senjata”. Masih meragukanku? Silahkan

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram