Breaking News
Home / Opini / .:: Ia yang Tertawa Di Akhir ::.

.:: Ia yang Tertawa Di Akhir ::.

Ada anekdot unik tentang otak orang Indonesia, ia dapat “dijual” dengan harga lebih mahal ketimbang otak orang-orang di negara maju. Bukan karena kecerdasannya, tapi karena “kesegaran”nya yang “like new”, terlihat masih baru, belum pernah dipakai. Sindiran sarkasme yang terkadang tak bisa disalahkan juga.

Di sisi lain, kalimat “dijual” dengan harga lebih tinggi ini juga tak bisa dipungkiri. Berapa banyak insan kreatif Indonesia yang memiliki model bisnis dan inovasi yang memiliki potensi untuk mendulang emas? Pasti anda ingat satu di antaranya adalah pencipta mobil listrik yang memiliki hak paten di luar negeri. Siapa lagi kalau bukan Ricky Elson.

Apa yang menyebabkan ide Selo, mobil listrik ciptaannya “dibeli” Malaysia? Sponsor. Yah, peneliti tak bisa melanjutkan proyek tanpa adanya penyokong dana. Entah itu profitable atau tidak. Begitu pula dengan insan kreatif dengan model bisnisnya, tentu ia membutuhkan modal awal sebagai “motor penggerak” awal. Dari mana ia dapatkan?

Merogoh kocek sendiri? Seberapa dalam kantongmu, kawan? Syukur jika orang tua memiliki bisnis keluarga bisa menjadi penyokong utama. Beberapa waktu lalu sempat ku dengar berita di TV bahwa JakartaGlobe merilis 150 orang kaya di Indonesia. Coba tebak, berapa dari 150 orang tersebut yang kaya bawaan dari bisnis keluarga?

Jalan lain bisa melalui berhutang. Berhutang pada bank selaku penghimpun dana masyarakat. Tetapi di sini pasti ada permintaan imbal balik. Bayangkan kita di posisi bank. Kita memiliki sejumlah dana, ndak bisa donk saya “melepaskan” ini secara cuma-cuma. Anda harus bisa memberikan berapa persen keuntungan untuk saya selain modal pokok ini. Dan lagi, berinvestasi pada model bisnis/inovasi yang belum terlihat potensinya? Sangat berrisiko.

Menerbitkan surat berharga juga merupakan jalan menghimpun dana. Tetapi jalan ini sangat kompleks karena legalitas dituntut di awal. Mulai dari perijinan yang berbuntut pada keharusan berbentuk badan hukum, keberadaan kantor fisik, bentuk organisasi, hingga laporan keuangan yang terstruktur. Rasanya terlalu berat bagi bisnis start-up.

Lantas bagaimana caranya? Terlebih insan kreatif dan inovatif ini termasuk generasi Y yang tak bisa dipungkiri memiliki karakteristik ingin instan. Mungkin kita mencemooh, ingin sukses kok maunya instan. Tapi mau bagaimana lagi, beginilah generasi Y. Tinggal bagaimana mengakomodir karakteristik demikian. Dan “tantangan” itulah kuncinya. Generasi Y suka akan tantangan.

Selancar acakku di internet membuatku terdampar di salah satu laman website unik. Tempat berkumpulnya insan kreatif dan inovatif yang menghimpun “receh” dari masyarakat, Kickstarter.com. Menggunakan jalur “crowdfunding”, mereka mengajukan sebuah inovasi lantas siapa yang tergerak untuk mendukungnya memberi “sedekah” kepadanya untuk terus menggarap proyeknya. Mirip dengan gerakan koin untuk Rio Haryanto.

Mungkin anda pernah dengar Oculus Rift? Teknologi virtual-reality yang menjadikan batas dunia virtual dan realita semakin samar. Itu satu dari sekian banyak contoh yang sukses dengan crowdfunding.

Tetapi masih ada jalan pintas lain yang digunakan untuk mencari penyokong dana. Venture Capital. Orang-orang “gila” yang kelebihan uang. Mereka berani menggelontorkan uang yang begitu besar pada insan kreatif dan inovatif yang baru memulai bisnisnya. Terlalu berani karena selain risikonya yang sangat besar, bukan keuntungan dari operasinya yang dikejar tetapi menjual kembali bisnis tersebut. Orang “gila” yang justru disebut dengan malaikat, “angel investor.”

Tak jauh beda dengan penjual bibit tanaman atau ikan. Ia beli benihnya, dirawat, “dihantamkan” ke pasar. Setelah tumbuh menjadi bibit, dijual yang tentu dengan harga yang lebih tinggi dari harga belinya. Kalau begini, siapa yang tidak tertarik?

Hal serupa terjadi pula pada GoJek dan Traveloka (saya ambil contoh sesuai tulisan saya sebelumnya hehe). Dengan pesatnya ia “merampok” pelanggan transportasi yang sudah ada. “Ditembaki”-nya mereka dengan “peluru” yang sangat gencar. Tak perlu menunggu lama, masyarakat sendiri yang akan memilih. Begitu sudah menguasai industrinya, siapa yang tak melirik ingin membeli bisnis ini? Masih ingat kan bahwa “malaikat” ini bukan mengejar keuntungan dari operasional bisnisnya?

Kembali ke pokok awal, kita sekarang mengatakan bahwa Ferry Unardi (Traveloka) dan Nadiem Makarim (GoJek) sebagai insan kreatif dan inovatif. Itu setelah mereka sukses. Tapi apakah kita juga akan mengatakan demikian di awal mereka memiliki ide bisnis ini? Bisa jadi ide mereka ini merupakan bahan tertawaan. Ditertawakan oleh orang-orang kaya di Indonesia. Lantas mencari orang “gila” di luar sana yang justru menjadi “malaikat” kemudian kembali lagi ke Indonesia. “Who gets the last laugh?”

Rumah, 2 Juni 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram