Breaking News
Home / Curhat / Guru yang Lebih Sakti

Guru yang Lebih Sakti

Pernah belajar mengenai fisika kuantum? Atau paling tidak tentang dinamika/kinematika? Atau tentang hukum pitagoras maupun trigonometri? Begitu inginnya menguasai materi-materi tersebut lantas anda habiskan hari demi hari dan malam demi malam, tenggelam dalam latihan soal materi tersebut. Begitu berhasratnya karena tahu bahwa tidak tahu, dan yakin dengan mempelajarinya akan memberi manfaat.

Tiba-tiba ada seseorang “pintar” yang datang dan memberi tahu bahwa apa yang dipelajari tersebut tidak berguna, tidak bermanfaat, “sampah”. PLAK!!! Rasanya itu seperti dibanting-banting. Lantas menyesal sudah terlanjur “membuang” waktu dan pikiran.

Hal ini saya alami sore tadi ketika sedang asyik melahap satu buah buku ilmu terapan. Sudah dua hari ini saya habiskan dengan membolak-balik lembar demi lembar sambil mencermati setiap petunjuk dalam gambar. Sampai lebih dari separuh sudah “tercerna” dan gambaran besar dari isi buku tersebut sudah terlahap. Lantas, iseng surfing di toko buku online amazondotcom, membaca review para pembaca buku tersebut. Tertarik pada satu komentar panjang yang memberikan “kritikan” pedas mengenai buku tersebut.

Saya bandingkan dengan pengalaman saya membaca buku tersebut, ada benarnya. Banyak benarnya. Tapi saya belum bisa sekritis pembaca tersebut, yang lantas merujuk buku-buku lain jika ingin mencermati bagian demi bagian dari buku tersebut. Namanya orang kan ndak mudah percaya, begitu juga dengan saya. Tidak serta merta saya percayai orang tersebut, kemudian latar belakang dari kritikus tersebut saya telusuri. Mudah, berbasis history di website toko buku online tersebut, deretan komentarnya dapat ditemukan, terutama yang berkaitan dengan topik yang dibahas tersebut.

Menarik. Bahkan komentar-komentarnya mendapatkan persetujuan dari para pembaca buku-buku tersebut. Ia merangkum bab demi bab dan mengomentari poin penting maupun apa yang kurang dan merujuk ke buku lain. Sudah persis dosen penguji kala “membantai” mahasiswanya. Ada juga yang lantas berkomentar mendukung untuk menulis buku sendiri.

Begitulah manusia yang ingin tahu. Mudah digoyang karena ketidaktahuannya. Ia bisa mudah berganti guru. Melompat dari satu padepokan ke padepokan lain. Begitu ada guru yang lebih “sakti”, ia tinggalkan guru yang sekarang dan mengikuti yang lebih sakti. Padahal bisa jadi fondasinya beda, alirannya beda, metode ajarnya beda. Asyik. Karena dengannya bisa jadi “Pendekar Super Sakti” (karya Khoo Ping Hoo).

Tapi sayang, umur itu terbatas.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram