Breaking News
Home / Nalar / Ghoshob dan Risiko Kehilangan Sandal

Ghoshob dan Risiko Kehilangan Sandal

Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Pernah kita dengar kalimat bijak tersebut? Bijak. Iya. Sayangnya, ada yang menerapkan “kebijakan” tersebut di tempat yang kurang tepat. Di masjid.

Pernah pergi ke masjid dengan sandal bermerek, tetapi pulang tanpa merek? Nyeker man. Di balik itu, ada orang yang menerapkan kalimat bijak tadi. Berangkat dengan sandal tanpa merek, pulang sudah bermerek. Alas kakinya sudah menjadi “lebih baik” setelah berangkat ke masjid.

Masjid pesantren, yang menjadi salah satu pusat kegiatan di pesantren, tentu memiliki tingkat hilir mudik yang begitu sibuk. Minimal lima kali sehari puluhan hingga ribuan pasang sandal mampir di sana. Kalau anda baru kali pertama ke masjid pesantren, sebaiknya hati-hati. Bisa jadi anda pulang dengan sandal “nyekermen”.

Ghoshob. Begitulah para santri mengistilahkannya. Meminjam tanpa memberitahu. Mungkin saking banyaknya pasang sandal di masjid pesantren, ghosob menjadi sesuatu yang wajar (dengan tanda kutip yang besar). Rasa persaudaraan dan saling memiliki mungkin juga salah duanya.

Bisa jadi ada anak yang “meminjam” sebentar untuk pergi ke kamar mandi atau tempat wudlu, tetapi tidak ditaruh kembali di posisi yang sama. Bisa jadi juga saking banyaknya sandal, ada satu dari sekian sandal tersebut memiliki penampilan yang “mirip”. Sehingga ketika keluar masjid dan hendak pulang, sandalnya “raib”.

Ah, cukup sudah. Cerita di atas bukan berarti mengartikan masjid sebagai sarang maling. Apalagi menunjukkan santri memiliki potensi untuk maling. (Ada lho wali santri yang ngamuk-ngamuk dan berteriak demikian). Mari kita sedikit beralih, tetapi fokusnya tetap pada sandal hilang.

Banyak anak muda sekarang yang mengenakan sandal gunung sebagai alas kaki kesehariannya (akhwat di kampus juga demikian). Sepasang sandal gunung berkisar di harga 160 ribu, 90 ribu untuk edisi KW super. Dipakai ke masjid, lantas ada yang meng”ghoshob”. Hilang sudah. Terpaksa “berpuasa” untuk seminggu ke depan agar bisa membeli sandal serupa.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, takmir masjid menyediakan tempat penitipan sandal. Kebanyakan demikian, tapi tidak semua masjid ada. Maka, cara lain yang dapat digunakan adalah mengenakan sandal yang lebih “murah”. Sandal jepit burung emprit (merknya). Kehilangan sandal tersebut, masih bisa ditolerir ketimbang sandal gunung yang harganya 10 kali lipat (dengan asumsi sandal jepit seharga 16 ribu).

Risiko kehilangan yang semula sebesar 160 ribu, bisa diminimalisir menjadi 16 ribu. Ini konsep yang masuk akal. Belum lagi sandal jepit tidak “semencolok” sandal gunung di mata “maling”. Dengan asumsi demikian, kemungkinan kehilangan sandal jepit lebih kecil.

Sekarang kita sedikit bermain angka tadi. Risiko kehilangan dari 160 ribu menjadi 16 ribu, itu berarti risiko berkurang sebesar 90%?! Bisakah kita menguranginya lagi? Menjadi 100% misalnya. Bisa. Tidak pakai sandal. Dengan demikian, tidak ada risiko kehilangan. Hitungan finansial memang demikian, tapi tahukah anda apa gunanya alas kaki? Melindungi kaki.

Kalau kaki anda tak sengaja menginjak (maaf) tahi ayam? Masih bisa dicuci. No problem. Tapi bagaimana jika yang diinjak adalah paku? Berkarat pula. Berdarah? Iya. Tetanus? Mungkin. Maka risiko anda bukan lagi kehilangan sandal, tapi kaki anda.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram