Breaking News
Home / Nalar / Gandakan Uang? Mau Donk!

Gandakan Uang? Mau Donk!

Fenomena penggandaan uang ini sangat menarik. Maka, mari kita telisik sedikit bagaimana ini bisa terjadi dan apa pelajaran yang bisa diambil dari sini.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi, begitulah nama yang santer masuk pemberitaan bahkan di media sosial. Bagaimana tidak, videonya yang bombastis menghambur-hamburkan berlembar-lembar uang kertas sedangkan “murid”nya merapikan dan menghitung satu persatu lembaran kertas tersebut. Belum lagi ditambahi dengan latar belakang tumpukan uang yang menggunung.

Melihat tumpukan uang tersebut, saya jadi teringat salah satu tokoh dalam komik Donal Bebek, Paman Gober. Miliarder yang memiliki gedung besar dan kolam koin. Bahkan di dalamnya terdapat papan loncat layaknya di kolam renang. Wuih wuih wuih.

Melihat tumpukan uang yang bejibun, bagaimana tidak membuat tergiur. Tanpa disadari bisa jadi dalam benak sudah memikirkan, dengan uang sebanyak itu saya bisa “menyelamatkan dunia”.

Lantas, bagaimana saya bisa mendapatkan “tumpukan” yang serupa? Itu lho orang Indonesia. Bukan di luar negeri. Bisa saya temui dan “berguru” langsung.

Dan voila. Lihat saja betapa banyak yang “berinvestasi” di sana.

Tapi benarkah jika berinvestasi di sana? Untuk ini, perlu baca tulisan saya yang lalu dengan judul, “Investasi Bodong”

Sekarang, pelajaran apa yang bisa diambil? “Jaman begini masih percaya hal yang demikian?!” STANDAR. Pelajaran umum. Coba kita lihat dari sisi lain.

Jika sedikit melihat di awal tulisan, bagaimana orang tahu “kekuatan” penggandaan uang tersebut? Dari video?! Berarti begitu mudahnya orang percaya hanya dari beberapa video tersebut?! Bayangkan betapa “powerfull”-nya kekuatan sebuah gambar bergerak. Ditambah dengan instrumen yang disukai banyak orang, DUIT.

Yang menjadi pertanyaan, sebegitu berpengaruhkah tokoh Dimas Kanjeng atau sebegitu mudahnya orang percaya dengannya?

Tak salah berinvestasi pada model penggandaan uang seperti ini. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah semakin besar “reward” yang diberikan, semakin besar pula “risk” yang harus diterima. Ingat lagi Hukum Newton Ketiga!

Uniknya dari fenomena ini adalah pendidikan, tidak lantas membuat orang dapat memilah mana yang logis atau tidak. Lihat salah satu orang yang berinvestasi di sana. Ada yang memiliki pendidikan sampai S3, seorang doktor?! (Kesampingkan dulu bagaimana ia mendapatkan gelar tersebut ya? Hehe).

Jika di awal ketika berinvestasi dikatakan kepada investornya demikian, “Anda harus percaya dengan kemampuan saya. Sekali saja anda meragukan saya, sekecil apapun keraguannya, maka jangan harap uang anda dapat tergandakan. Jangan sekali-kali ragu. Camkan itu.”

See?

Solo, 7 Oktober 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram