Breaking News
Home / Nalar / Galau itu ketika tahu bahwa dirinya salah

Galau itu ketika tahu bahwa dirinya salah

Galau itu ketika tahu bahwa dirinya salah. Tapi ternyata tidak selamanya demikian.

Seseorang yang sedang melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan kendaraan umum. Katakanlah ia hanya tahu tujuan akhirnya, tapi tidak mengetahui kendaraan apa yang harus ia ambil untuk menuju ke sana.

Bus trans mungkin bisa menjadi pilihan yang hemat di kantong untuk membelah ibukota. Tetapi mengetahui rute dan halte untuk setiap bus sangatlah dibutuhkan. Karena apabila ia asal menaiki bus yang berhenti di halte, bisa jadi ia sampai di ujung rute yang berkebalikan dengan tujuannya.

Benar jika ia membelah ibukota dengan ongkos lebih hemat, tapi bukannya sampai di tujuan dengan estimasi waktu perjalanan yang sudah diperhitungkan. Malah ia harus merogoh kocek lebih untuk kembali ke rute yang benar dan sampai tujuan sebelum berganti hari.

Galau?! Pasti. Apalagi ketika ia sudah berada di dalam bus dan melihat papan jalan yang dilaluinya ternyata tidak sesuai dengan tujuannya. Serasa ingin berteriak, “PAK!!! KIRIIIII!!!!” berharap supir segera merapat ke kiri dan ia dapat melompat keluar sebelum bus berjalan semakin jauh dari tujuan.

Tapi apa daya jika bus trans hanya berhenti di halte yang sudah ditentukan. Berteriak rasanya sia-sia. Semakin banyak gedung yang terlewat, menambah kegalauan yang semakin menjadi. Sambil membayangkan berapa langkah kaki jika ia ingin kembali ke lokasi semula. Berapa perak harus ia keluarkan untuk kembali ke rute yang benar.

Tetapi kegalauan tidak selalu tahu karena salah. Bisa jadi galau itu karena tidak tahu bahwa benar. Kecemasan menghantui. Penuh keraguan dalam diri. Merasa bahwa apa yang dilakukannya keliru. Tidak percaya diri. Resah. Galau.

Padahal dirinya sudah berada di jalan yang benar. Rute yang dilaluinya sudah menuju tempat yang diharapkan. Tetapi ada ketidaktahuan yang menyebabkan dirinya galau. Contoh yang paling mudah adalah ketika mengerjakan soal matematika.

Entah mungkin gara-gara mata pelajaran matematika merupakan momok bagi hampir setiap pelajar. Sehingga dalam benak pastilah kerumitan melekat pada soal ujian matematika. Rasanya mustahil bagi seorang guru untuk memberikan soal ujian yang lebih mudah dari soal latihan yang diberikan di kelas.

Tetapi tidak menutup kemungkinan juga soal yang diberikan pada saat ujian ternyata lebih mudah dari yang dikira. Sehingga siswa yang mengerjakan pasti mudah sekali menyelesaikan soal tersebut. Tapi ternyata tidak demikian.

Bisa jadi karena begitu mudahnya soal ujian tersebut, siswa menjadi ragu dengan jawabannya. Apa benar jawabannya demikian? Bukankah latihannya lebih rumit dari ini. Bisa jadi ini hanya soal jebakan. Apalagi jika jawabannya langsung sesuai dengan pilihan ganda yang tersedia. Ia justru terjebak dengan pikirannya sendiri. Terjebak pada keraguannya sendiri. Padahal ia tidak tahu bahwa dirinya sudah menjawab dengan benar.

Lantas apa yang terjadi? Ia coret jawaban semula dan menggantinya dengan jawaban yang dianggap “masuk akal” bukan “tepat”. Logikanya sudah terbalik haha.

Galau itu tahu karena salah
Galau itu tidak tahu karena benar

Rumah, 8 September 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram