Breaking News
Home / Curhat / Fanboy Memilih Perangkat Elektronik

Fanboy Memilih Perangkat Elektronik

Dalam memilih perangkat elektronik, terutama yang berembel-embel “pintar” seperti telepon “pintar”, televisi “pintar”, dan lain sebagainya, saya akan “sangat” selektif. Oleh karena itu, istilah “fanboy” tidak masuk dalam kamus saya.

Fanboy (fangirl) merupakan istilah di mana seseorang sangat terobsesi (fanatik) pada suatu brand/merk. Apa akibatnya? Kepercayaan yang begitu tinggi menyebabkan ia tak ragu lagi dalam memilih brand tersebut, meskipun ada yang lebih baik daripadanya.

Istilah ini pertama kali saya kenal ketika ingin merakit komputer. Sebagaimana yang kita tahu bahwa komputer rakitan memiliki keleluasan dalam penggunaan komponen-komponen penunjangnya, mulai dari prosesor, RAM, VGA, dan lain sebagainya.

Baru memilih prosesor, saya “dibenturkan” kepada Intel dan AMD, termasuk dengan fanboy masing-masing. Belum lagi VGA juga ada dua kubu: NVIDIA dan AMD. Padahal masih ada komponen lain dan tentunya ada fanboy yang mengusulkan brandnya masing-masing.

Hal ini saya temui pula ketika memilih telepon “pintar”. Dulu, saya termasuk fanboy dari Sony Ericsson. Yah, mau bagaimana lagi karena ponsel pertama yang diberikan orang tua adalah Sony Ericsson seri J200i. Belum termasuk “pintar” karena pada masa itu, telepon ter”pintar” adalah PDA.

Delapan tahun berikutnya ketika diberi kebebasan untuk memilih ponsel sendiri. Lagi-lagi pilihannya jatuh pada Sony Ericsson. Generasi terakhir dari brand tersebut karena setelahnya Sony melepas Ericsson.

Pada pilihan ini, sebenarnya bukan karena sudah jatuh hati pada brand tersebut sehingga menjadi fanboy. Tetapi setelah melakukan “riset” kecil mencari price-performance yang “worth it”. Dan kebetulan kali itu jatuh pada Sony Ericsson Live with Walkman.

Tahun demi tahun setamat kuliah di ITS, ponsel pun kerap berganti. Bukan semata-mata karena mengikuti trend, tetapi menjadi kebutuhan karena berdagang daring. Mencari yang nyaman tapi juga membawa duit.

Triknya hanya satu, mencari ponsel yang memiliki umur panjang. Tujuannya ketika dijual kembali masih memiliki nilai jual yang tak jauh beda dengan harga beli. Tentunya dalam waktu kurang dari satu – dua tahun.

Dan setiap kali berganti, “riset” kecilpun perlu dilakukan. Beberapa kali pilihan masih jatuh pada brand Sony dari Jepang. Tetapi begitu muncul pesaing dari Taiwan yang diikuti oleh China, produk Jepang ini sedikit tergoyahkan dari pilihanku.

Karenanya, di pesantren yang kala itu Samsung-minded (fanboy Samsung) berhasil tergeserkan oleh Asus dan Xiaomi hoho. Dan kebetulan, kala itu sedang digalakkan lalu lintas informasi melalui media elektronik yang membutuhkan ponsel pintar.

Stop. Sampai sini saya jadi lupa apa tujuan dari menulis ini? Ah, mungkin lain kali bisa saya buat tulisan berbeda. Kalau ingat 😛

Stasiun Lempuyangan, 21 September 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram