Breaking News
Home / Opini / I don’t read what I sign

I don’t read what I sign

“I don’t read what I sign,” begitulah kira-kira isi dari meme yang beredar ketika Pak Presiden sempat menjadi bahan rundungan netizen di media sosial terkait dokumen yang ditandatanganinya.

Bukan hanya presiden yang cakupannya sudah sangat tinggi, tetapi kita pun juga sering melakukannya. Ambil contoh ketika membuat akun di media sosial. Bukankah di bagian akhir sebelum men”submit” biodata, ada kolom yang harus dicentang? Berikut merupakan contoh ketika membuat akun di facebook.

Dengan mengeklik Daftar, Anda menyetujui Ketentuan kami dan bahwa Anda telah membaca Kebijakan Data kami, termasuk Penggunaan Kuki.

Kebanyakan pengguna tanpa tedeng aling-aling langsung menekan tombol daftar tanpa membaca “Ketentuan”, “Kebijakan Data” dan “Kebijakan Kuki” terlebih dahulu. Bukankah itu termasuk “I don’t read what I sign”? Lantas, mengapa kita tetap melakukannya?

Apa anda tahu bahwa setiap postingan di media sosial tersebut direkam dan bisa menjadi “bumerang” suatu saat nanti yang dimanfaatkan oleh media sosial tersebut? Apa anda tahu bahwa iklan yang tayang di media sosial tersebut telah disesuaikan dengan aktivitas selancar anda di dunia maya? Dan sebagainya dan sebagainya.

Sudah tahu demikian, mengapa tetap mendaftar?

Di sinilah kita perlu kembali ke dasar (back to basic). Bermain di wilayah risk-reward. Kebocoran data pengguna merupakan risiko yang kita hadapi ketika membuka akun tersebut. Tetapi kita juga harus melihat reward (keuntungan) dari penggunaan media sosial tersebut. Lantas kita dapat menimbang, apakah keuntungannya lebih besar ketimbang risiko yang diterima?

Jawabannya sederhana. Ketika tidak imbang, katakanlah lebih besar risikonya, jangan klik daftar. Tetapi sebaliknya. Jika dengannya (penggunaan media sosial) lebih menguntungkan, tak usah ragu mengklik daftar.

Hidup itu terkadang sederhana. Hanya saja menjadi rumit karena manusia ingin ada “rasa” di setiap “masakan”nya. Bukankah dengan demikian hidup menjadi penuh rasa. Penuh makna. Penuh pelajaran yang bisa dipetik. Bahkan tanpa perlu mengalami pengalaman langsung.

Selalu ingat konsep Fisika dasar. Hukum ketiga Newton. Setiap aksi, selalu menimbulkan reaksi.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram