Breaking News
Home / Opini / Dollar Naik Turun

Dollar Naik Turun

Beberapa waktu lalu, kurs transaksi Rupiah terhadap Dollar Amerika nyaris menyentuh 15 ribu Rupiah per Dollarnya. Lebih tepatnya 14.735 Rupiah per Dollar pada 1 Septermber 2015. Berkaca pada tahun 1998, awal masa Reformasi, yang pernah menyentuh level 16.950 Rupiah per Dollar dari rata-rata hanya Rp 2 ribuan, harga barang juga mengalami kenaikan.

Masyarakat panik. Entah panik sesaat akibat paparan dari pemberitaan maupun media sosial, atau memang trauma dengan krisis di tahun 1998 lalu. Dikhawatirkan hal serupa terjadi karena diduga keduanya memiliki korelasi positif, harga Dollar naik begitu juga dengan harga barang-barang. Pak Jkw yang masih kinyis-kinyis jadi presiden pun terkena “getah”nya.

Bank-bank pun melakukan pengujian daya tahan sistem keuangan (Stress Test), salah satunya Bank Indonesia. BI menguji, Indonesia masih bisa bertahan selama kurs Dollar masih di bawah Rp 15.500. Bersyukur, Dollar kala itu tidak sampai menyentuh batas maksimal tersebut. Berturut-turut turun hingga sekarang “dijaga” di level Rp 13 ribuan.

Sama seperti komoditas, mata uang merupakan barang yang “sekarang” bisa ditransaksikan (baca: dijualbelikan). Maka berlaku pulalah hukum penawaran dan permintaan (supply and demand). Semakin banyak yang meminta, semakin tinggi pula harganya. Semakin banyak Dollar “diminta”, semakin “mahal” pula harganya. Kapan Dollar itu diminta?

Sebagaimana yang kita ketahui, mata uang ini digunakan sebagai mata uang internasional, dengan kata lain digunakan dalam transaksi internasional. Jika negara berperan sebagai pelaku transaksi jual beli, maka transaksi jual belinya merupakan kegiatan ekspor dan impor. Dollarlah yang digunakan sebagai alat tukar jual beli internasional.

“Kembalikan Pak Habibie, biar Dollar turun di 7 ribuan!” Memang, setelah Dollar hampir menyentuh 17 ribu, ia turun sampai separuhnya di masa Pak Habibie yang relatif singkat. Eits, tunggu dulu. Apakah dengan Dollar yang turun, Indonesia diuntungkan karenanya, untuk masa kini? Mari kita main matematika hehe.

Misal Dollar di level 13 ribu (pembulatan untuk memudahkan perhitungan *padahal sudah ada kalkulator :p). Total ekspor Indonesia di tahun 2016 diestimasikan sebesar USD 144.433,5 juta dengan impornya sebesar USD 135.650,7 juta. Jika dikonversi menjadi Rupiah maka ekspor dan impornya sebesar Rp 1.877,6 triliun dan Rp 1.763,5 triliun. Masih ada selisih sebesar Rp 114,1 triliun.

Jika Dollar turun menjadi Rp 10 ribu, maka konversi ekspor dan impor Indonesia menjadi Rp 1.444,3 triliun dan Rp 1.356,5 triliun dengan selisih sebesar Rp 87,8 triliun. See?

Dengan penurunan Dollar sebesar 3 ribu rupiah atau 23% dari 13 ribu saja, keuntungan Indonesia turun sebesar Rp 26,3 triliun.

Sejak dulu, Indonesia masih diuntungkan karena transaksi ekspornya lebih besar dari impornya. Tetapi sampai tahun 2012 hingga 2014, Indonesia mengalami defisit di mana nilai impornya lebih besar dari ekspornya. Ketika impornya lebih besar dari ekspornya, maka kenaikan Dollar akan sangat “menyakiti”.

Yang jadi pertanyaan, ketika ekspor Indonesia lebih besar dari impornya dan Dollar semakin tinggi, apakah ekonomi Indonesia serta merta akan membaik?

*data statistik disarikan dari Bank Indonesia, Kementerian Perdagangan RI dan The Observatory of Economic Complexity.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram