Breaking News
Home / Opini / Dollar dan Ekspor – Impor

Dollar dan Ekspor – Impor

Kali pertama saya merakit komputer sendiri, mulai dari pemilihan komponen sampai pemasangan aplikasi, pokoknya ready to use, itulah saat di mana saya mulai aware dengan perubahan kurs rupiah. Saat itu satu dollar berada di sekitar 9.000 – 10.000. Masih terlihat “murah” ketimbang sekarang yang sudah bergerak di rentang 13.000.

Ketika semua komponen sudah terpilih, tinggal eksekusi pembelian. Ternyata ketika akan dieksekusi, harganya naik. Saya pikir, ah ini mungkin karena momen mendekati lebaran, maka harga menjadi naik, termasuk komponen komputer. Tunggu setelah lebaran saja paling nanti sudah turun.

Ada jeda sekitar satu minggu setelah lebaran karena waktu tersebut masih momen libur panjang lebaran. Seketika toko buka, bum. Harganya naik jauh. Saat itu harga dollar sudah di atas 11.000. Hanya dalam dua minggu, naiknya sudah 10 persen.

Mulai bimbang, beli sekarang atau menunggu sampai turun. Sudah main spekulasi dengan harga dollar hingga akhirnya memutuskan untuk membeli sekarang. Dan benar, beberapa hari berselang, dollar semakin mahal menyentuh 12.000 per dollar. Terus meningkat hingga sekarang stabil di kisaran 13.000 – 13.600

Dollar naik, yang dirugikan adalah importir seperti saya secara tidak langsung. Sebabnya jelas, saya membeli dalam bentuk dollar. Atau lebih tepatnya pedagang elektronik mengimpor dan membayar dalam bentuk dollar. Semakin mahal harga dollar, maka semakin tinggi pula beban impornya.

Jika ada yang “dirugikan” itu berarti di sisi sebaliknya tentu ada yang “diuntungkan”. Eksportir tentu akan diuntungkan karena ia menjual ke luar negeri dan menerima bayaran dalam bentuk dollar. Ketika dollar semakin naik, maka semakin tinggi pula “kekayaannya” jika dikonversi ke dalam rupiah.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, kenaikan nilai tukar rupiah ini dapat menekan kegiatan impor dan mendorong ekspor. Dengan kata lain, menekan “belanja” dan mendorong “penjualan”.

Perusahaan yang melakukan kegiatan impor akan terasa dirugikan, semisal perusahaan produksi roti. Bahan baku gandum yang harus impor ini akan menyebabkan biaya produksi meningkat. Padahal di sisi lain, ia tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual rotinya. Bisa-bisa pelanggannya kabur menjerit-jerit karena harganya yang tiba-tiba naik.

Namun di sisi lain, perusahaan yang melakukan kegiatan ekspor menjadi diuntungkan. Katakanlah UKM yang memproduksi kerajinan tangan. Ia menjual ke luar negeri dengan mematok menggunakan dollar. Sudah barang tentu semakin tinggi rupiah yang didapatkan meski harganya tetap. Bahkan tanpa perlu khawatir harga barang bakunya naik.

Sekarang, dollar berada di 13.000-an. Bisa jadi akan “dijaga” di level tersebut. Rasanya tidak mungkin jika turun di bawah itu, apalagi dengan adanya program Tax Amnesty dengan motonya, “ungkap, tebus, lega”. Karena apa?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram