Breaking News
Home / iseng / Me & CASA #14: Pemasar Kacamata Matahari (Part 2- TAMAT)

Me & CASA #14: Pemasar Kacamata Matahari (Part 2- TAMAT)

Dulu Dicuekkin, Sekarang Dicari-cari

Sebenarnya, sosialisasi mengenai Gerhana Matahari Total sudah lama dilakukan, bahkan diselipkan ke dalam materi seminar maupun pengajian Ust AR selama mengisi kajian. Dan di sana ‘kan kau temukan diriku terduduk di barisan paling belakang, dengan berbagai alat peraga astronomi, salah satunya kacamata matahari tersebut.

Mungkin karena dirasa GMT masih jaaauuuh sekali, tak banyak laku terjual. Apalagi dengan harga 25 ribu perak, rasanya peserta seminar/kajian enggan mengeluarkan untuk membeli kacamata “mainan” tersebut meskipun sudah teredukasi mengenai GMT. Walhasil, setiap pergi ke acara-acara tersebut hanya membawa beberapa buah, tak lebih dari sepuluh, toh itu juga ndak diminati. Masih kalah pamor dengan buku arah kiblat, walaupun harganya dua kali lipatnya.

Hingga seminggu mendekati hari H pun masih belum banyak yang tertarik untuk memilikinya. Bahkan kutawarkan untuk menjadi reseller dengan kepastian margin keuntungan yang bisa dipatok sendiri pun tak banyak yang tertarik kecuali dua orang. Begitu media banyak memberitakan tentang urgensi dari kacamata tersebut, termasuk memberitakan bahwa kacamata CASA merupakan paling rendah dari yang lain, mulailah banyak yang mencarinya.

Masyarakat menjadi demanding. Pikiran untuk meraup untung, “mekar” di sana-sini. Tengkulak pun bermunculan. Bahkan di masyarakat sekitar pesantren pun baru mulai “menyadari” kesempatan keuntungan ini. Hapeku berdering di waktu-waktu tak wajar, menjadi lebih ramai dari biasanya. Orang-orang yang biasanya tak menghubungiku mulai mencari-cari. Dan di saat itulah ku potong kesempatan itu, ku tolak halus (kadang mungkin terdengar ketus :p)

Rasa kesal tiba-tiba menggerogoti ketika orang-orang yang dulu ditawari tapi cuek bahkan bersikap tak mendukung. Ah rasanya tak pantas rasa kesal ini, terkesan “balas dendam”.  Tapi mau bagaimana lagi, toh sudah habis. Tak tersisa. Terdistribusikan ke orang-orang yang sedari awal memang berniat membantu dengan ikhlas. Bahkan ada yang ku tawari persenan keuntungan, justru menolak. Ah, semoga dibalas dengan ganjaran yang lebih besar ;D

Untung – Hampa – Materi

Entah berapa kali ku bertanya dalam hati, apa untungnya bagiku jika bisa menghabiskan persediaan kacamata ini? Satu pesan singkat masuk ke hapeku setelah ku katakan bahwa kacamatanya habis, “wuih sekarang CASA jadi kaya ya?”. Ah ia tak tahu yang sebenarnya, sebaiknya tak perlu tahu, dan tak perlu mencari tahu. TAMAT. Tak ada lagi yang bisa diceritakan dari sini.

Sekarang kita coba lakukan perhitungan kasar, yang sekalipun belum pernah ku lakukan sebelumnya. Bahkan ketika pertama menjualnya. Katakanlah ada 2.200 unit kacamata. Dijual dengan harga Rp 25 ribu, maka akan mendapatkan nominal Rp 55 juta. Angka yang masih kecil, bahkan tak ada separuh dari peralatan astrofotografi yang digunakan.

Itu belum dihitung pembeli kacamata yang menawar bahkan meminta bonus tambahan macam-macam. Atau menggunakan otoritas jabatannya agar mendapatkan GRATIS. Belum lagi anak-anak SD yang masih belum bisa membedakan lembaran hijau dengan ungu. Atau ibu guru anak-anak SD tersebut yang menggunakan berbagai dalih untuk mendapatkan potongan harga, syukur-syukur GRATIS.

Ah, itulah tantangannya ketika membagikan ilmu atau mendulang rejeki. Kembali lagi ke pertanyaan semula, apa yang ku dapat? Rupiah kah? Entahlah. Tapi tetap saja, alamiahnya seseorang akan mengambil untung dalam setiap kesempatan, begitu juga denganku. Bukan rupiah yang ku kejar, tapi sebuah pengalaman. Penerapan teori-teori yang ku pelajari. Semakin banyak pengalaman yang ku dapat, semakin banyak pula kesempatan yang ku punya untuk menerapkan teori-teori tersebut

Nah, ingin tahu teori-teori apa saja yang ku pelajari dan bagaimana penerapannya? Mari kita buat sebuah kontrak. Saya menjadi konsultan anda dan anda membayar jasa konsultasinya :p

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram