Breaking News
Home / iseng / Me & CASA #14: Pemasar Kacamata Matahari (Part 1)

Me & CASA #14: Pemasar Kacamata Matahari (Part 1)

Beberapa pekan sebelum Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, tiba kiriman kacamata matahari di Lab MIPA. Ribuan jumlahnya, hampir sejumlah banyaknya santri dan pegawai pesantren. Katakanlah 2.200 unit. Direncanakan akan dibagikan GRATIS kepada seluruh civitas akademik pesantren dan menjadi gerakan BOMBASTIS ketika hari H tiba. Yang belum pernah dilakukan di mana pun. Bahkan sepanjang sejarah. Paling tidak begitulah yang diutarakan Ust AR

Nahas, “mimpi” tersebut harus direvisi ulang karena satu dan lain hal. Dirombak total rencana yang sudah diatur dalam dua tahun terakhir. Hingga akhirnya keputusan diambil “JUAL SEMUA”. “pasang harga berapa tadz?” tanyaku. “dua puluh lima ribu, ganti ongkos produksi”. “WHAAATTT?!?! KACAMATA “MAINAN” GINI HARGANYA 25 RIBU?!?!” batinku menjerit. Yah, saat itu memang diriku papa akan ilmu astronomi apalagi urgensi dari sebuah kacamata matahari

Beberapa kali rekan di CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) sebut saja Jipa (bukan nama sebenarnya) santer mempromosikan produk tersebut. Tapi sayang, minim sekali tanggapan. Tak ada yang merespon. Lama kelamaan gatel juga mataku melihat tumpukan kacamata rapi di sudut Lab. Apalagi Ust AR memasarkan sendiri di toko dekat rumahnya.

Produk sudah ada, tinggal dipasarkan saja kok susahnya. Jumlahnya pun tidak sedikit, ada 2.200 unit kacamata. Hingga akhirnya satu teori ingin ku coba terapkan. Teori yang sering ku pakai dalam memasarkan produk-produk pribadiku sendiri. Dan telah terbukti keampuhannya. Yang di kemudian hari baru ku tahu ternyata teoriku itu merupakan satu dari enam teori yang sudah ada

Ku minta persetujuan dari Ust AR tentang rencanaku. Khawatir kalau rencana ini ku eksekusi maka persediaan habis dan tak tersisa hingga hari H. Sebegitu optimisnya diriku saat itu dengan rencana tersebut. Begitu ijin dikabulkan, skenario dirancang. Bahkan saat itu seluruh staf Lab dan Perpus digerakkan menjadi “sales” oleh Ust AR. Tak lama, rencana ku eksekusi dan BOOM!! Tak perlu menghitung 1 x 24 jam, hapeku berdering di waktu-waktu yang tak wajar. Satu demi satu permintaan pesanan masuk. Ada yang minta dikirim atau ketemu langsung.

Hari demi hari hanya diisi dengan membungkus paket dan menerima bukti transfer. Beberapa kali ada juga yang minta COD (Cash On Delivery). Yap, teori ini berhasil ku terapkan sekali lagi 😎

Merekrut = Membangun Jiwa Technopreneur

Masih tak puas dengan progres yang ada. Hitung-hitung kasar jika pemesanan rata-rata tiap hari hanya begini maka akan menyisakan jumlah persediaan yang masih besar. Perlu ada peningkatan jumlah transaksi. Percepatan penjualan.

Ku rencanakan lagi skenario baru. Menghabiskan SELURUH persediaan kacamata sebelum hari H, tepatnya 8 Maret 2016 harus sudah habis. Kali ini tanpa minta persetujuan dari Ust AR ku gulirkan ide ini kepada seluruh alumni CASA (Club Astronomi Santri Assalaam). Menawarkan peluang bisnis bagi yang menginginkan. Agar lebih menarik maka ku bumbui dengan “loyalitas” yang jika dibaca lagi mungkin terdengar agak lebay 😅. “menjadi bagian dari sejarah perkembangan CASA”😜

Begitu bola sudah bergulir. No respon 😱. Aaah tak ada yang menangkap rencanaku. Mungkin sedang sibuk-sibuknya kehidupan perkuliahan sehingga mengabaikan tawaranku. Sebuah tawaran terselubung yang jika dilatih justru mendatangkan easy money. Sarana gratis membangkitkan jiwa technopreneur. Tapi sayangnya, tak ada yang menangkapnya. Pupuslah harapanku.

Terpaksa yang Membuat Ketagihan (nantinya)

Ada sedikit rasa kecewa yang ku rasakan. Satu skenarioku gagal. Itu berarti persediaan akan menumpuk bahkan hingga hari H terlewati. Akhirnya hanya dua respon yang ku terima. Sebut saja namanya Rasa dan Rave (bukan nama sebenarnya). Ada keraguan di balik respon itu. BLAK. Ku kirimkan saja dalam jumlah besar. Harus dipaksa karena pasti belum pernah merasakannya. Satu lagi yang merespon, sebut saja Ebi (bukan nama sebenarnya). Sekali lagi ku kirim jauh lebih besar dari dua sebelumnya yang tentu saja direspon kaget. Bahkan bingung bagaimana menghabiskannya.

Ada rasa optimis yang ku rasa. Mungkin belum hari ini, tapi besok atau lusa, percaya diri mereka akan muncul dengan sendirinya. Maka praktis dengan ini, distribusiku menjangkau pulau Jawa dari Barat hingga Timur. Di Barat ada Jakarta, tengah ada Yogyakarta, dan Timur ada Surabaya. Sesuai rencana awal. Tetapi sekali lagi harus dipoles dengan sebuah skenario tambahan. Dan BOOM!! Hey, did you feel it now?☺ Rasanya berdagang.

Sembilan dari sepuluh pintu rejeki itu datangnya dari berdagang. Begitulah ku diingatkan dalam sebuah pesan singkat yang ku terima.

Hati-hati jika KETAGIHAN😜

Mission “nearly” Completed

Tinggal dua hari lagi menuju Gerhana Matahari Total. Ku tengok persediaan yang ada di Lab, karena persediaan yang ku bawa habis. Ah sisa segini. Cukuplah  disisakan untuk internal pesantren. Ku putuskan untuk menghentikan segala pengiriman dan pemesanan yang masuk kepadaku. Eh, di luar prediksi. Justru masih ada saja yang menginginkannya.

“ustadz, tak stop aja ya yang pesan kacamata lagi?” ku sampaikan ke Ust AR mengingat jumlah persediaan yang sangat terbatas. Fix, semua pemesanan ku alihkan ke Rasa, Rave, dan Ebi. Sisanya yang memang benar-benar menginginkan, ku minta untuk datang langsung. Sudah begini, masih ada yang minta disisakan untuk di hari H. Ingin datang di hari H dan mengambil langsung. Ndak bisa ku janjikan, maka harus mengingatkanku berkali-kali agar tak lupa ku jual ke yang datang lebih dulu. First come, first serve 😜

Bersambung……

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram