Breaking News
Home / Kajian / .:: Bumi sebagai Hamparan ::.

.:: Bumi sebagai Hamparan ::.

Pembahasan mengenai Bumi sebagai hamparan masih membuatku penasaran. Sampai pada satu benang merah coba kutarik bahwa dikatakan demikian karena kita berada di Bumi itu sendiri.

Sendainya kita bisa melompat tinggi dari Bumi kita berpijak dan melihat ke bawah, mungkin kita bisa melihat seberapa luas Bumi terhampar di mata kita. Semakin tinggi kita melompat, semakin tampak hamparan.

Begitu tinggi hingga suatu titik di mana lompatan tadi memposisikan kita berada di luar Bumi (asumsi jika Bumi bulat). Atau posisi di mana kita melihat the big picture dari betapa luasnya hamparan Bumi (asumsi jika Bumi datar). Posisi di mana bibir kita membentuk lingkaran penuh. OOOOO. Ternyata Bumi itu . . . .

Contoh ini coba kukaitkan dengan sebuah analogi jika kita berada dalam gerbong kereta api. Ketika berada di dalam kereta api, maka dengan mudah kita akan mengatakan bahwa keretanya DIAM.

Lain halnya jika kita berada di luar kereta dan melihat kereta tersebut. Mungkin kita akan mengatakan bahwa kereta tersebut berjalan MUNDUR.

Relativitas Ialah Kuncinya

Ya, relativitas mungkin merupakan kuncinya. Dari mana sudut pandang kita melihat Bumi sebagai hamparan. Apakah kita berada di dalam Bumi atau di luarnya.

Albert Einstein terkenal setelah memaparkan Teori Relativitasnya. Ia mengatakan bahwa tidak ada kerangka referensi absolut (absolute frame of reference) sehingga setiap benda bergerak relatif terhadap yang lain.

Seharusnya, penjelasan mengenai datar atau bulatnya Bumi terjawab sampai sini. Tapi semakin kudalami teori relativitas, semakin takjub ku dibuatnya.

Ruang dan waktu merupakan satu kesatuan. Jika ruang memiliki tiga dimensi (panjang x lebar x tinggi), maka waktu merupakan dimensi keempat. Dan waktu tidak berlaku sama bagi setiap orang. Ia akan bergerak lambat bagi orang yang bergerak lebih cepat. Maka dikenallah istilah time dilation.

Ruang dan waktu (space-time) ini dianalogikan seperti trampolin. Kehadiran bola sebagai massa yang diletakkan di atas trampolin tersebut akan menarik trampolin ke bawah pada titik di mana bola tersebut diletakkan. Dan terciptalah gravitasi.

Jika bola lain digulirkan atau bahkan cukup diletakkan di titik lain pada trampolin, maka bola yang lebih ringan akan tertarik menuju bola yang lebih berat. Dengan kata lain massa yang lebih ringan tertarik ke massa yang lebih besar. Tarikan ini akan membuat bola yang ringan bergerak seakan mengitari bola yang lebih berat di atas trampolin.

Masya Allah. Sampai titik ini, badan saya gemetar. Bola mata saya berair. Jemari saya turut gemetar di atas tuts-tuts keyboard.

Jika banyak bola lain yang serupa dengan bola kedua, yakni lebih ringan dari bola pertama, diletakkan di atas trampolin, maka yang terjadi mereka akan berputar mengelilingi bola pertama yang paling berat. Massa yang paling ringan akan bergerak mengitari massa yang paling berat.

Jika bola-bola tadi merupakan planet dan obyek langit yang berjuta-juta jumlahnya, maka gerakan mengitari tadi dikenal dengan istilah revolusi.

Simpul dari Benang Merah

Hamparan – Relativitas – Gravitasi. Jika ketiga kata ini disangkutpautkan satu sama lain, mungkinkah? Mungkinkah jika hamparan yang dimaksud adalah gravitasi? Hamparan merupakan space-time yang digambarkan sebagai trampolin. Lantas, adanya benda-benda langit menunjukkan kehadiran gravitasi, gerakan tarik menarik satu sama lain.

Jika sudut pandang kita diperluas. Mungkinkah Bumi yang dimaksud bukan sekedar Bumi sebagai sebuah planet yang kita tinggali, tapi lebih besar dari itu? Bumi yang dimaksud merupakan space-time sehingga disebut hamparan?

Pikiran saya melesat pada sebuah hadits yang berbunyi sebagai berikut

Tidak akan masuk surga orang yang terdapat kesombongan dalam hatinya walau sebesar biji zarrah

Dulu, orang menganalogikan biji zarrah seperti biji sawi saking kecilnya. Kemajuan teknologi menjadikan analogi ini berkembang. Semula digambarkan sebagai biji sawi, kemudian menjadi atom karena ia merupakan inti terkecil yang diketahui manusia saat itu.

Lantas, mungkinkah kita menganalogikan hal serupa pada Bumi kita sebagai hamparan?

Rumah, 5 Juli 2016

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Risk is Our Business

Simak selanjutnya di Kalau Bulan Bisa Ngomong

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram