Breaking News
Home / Curhat / Bukan Menikmati Pahitnya Kopi tapi Kebersamaan

Bukan Menikmati Pahitnya Kopi tapi Kebersamaan

Dari kopi aku belajar bahwa rasa pahitpun bisa dinikmati

“Ente tau ndak Wan, ini yang buat kata-katanya mesti lagi galau.” | “Haha. Mungkin. Mungkin.”

Nostalgia singkat saya dengan Rizkan Thaiba, mahasiswa PascaSarjana di Madinah yang sekaligus teman satu pesantren dahulu. Penikmat kopi sehingga malam minggu kali ini dihabiskan di kedai kopi, membahas yang tak jauh dari kopi.

“Ethiopia merupakan negara yang mempopulerkan kopi sebagai minuman,” ujarnya sambil menunjukkan foto kopi Ethiopia koleksinya. Yap, ku bilang “koleksi” karena memang ia memiliki beragam kopi dari berbagai belahan dunia.

“Ini kopi Italia. Bedanya ialah tanpa ada kafein.” | “Hah?! Bukannya kopi itu mengandung kafein?!” | “Iya, tapi kopinya diproses sedemikian rupa sehingga kandungan kafeinnya hilang. Jadi setelah minum ini, bisa langsung tidur,” jelasnya singkat. Ooo ternyata ada juga kopi yang begitu.

“Ini kopi Belanda. Sudah ada sejak jaman penjajahan,” sambil menunjukkan kopi dengan kemasan mirip kotak Khong Ghuan. “Naah. Yang ini kopi Israel. Ane dapat dari teman Palestina di Tepi Barat,” sambil ia tunjukkan foto kemasan kopi yang hanya angka 20% saja yang dapat ku baca. “Itu artinya apa Ba?” | “Ndak tahu. Hahaha. Bahasa Ibrani.” | “Haha kirain tahu artinya.”

Hampir dua jam lebih kami membahas seputar kopi dari berbagai negara termasuk jalur distribusi dan bisnis kedai kopi yang begitu terkenal.

Bagi penikmat kopi, rasa pahit setiap biji kopi itu beraneka ragam. Baik dari asal biji kopi tersebut, proses penggilingan, sampai penyajiannya. Termasuk campuran yang dituang ke dalam kopi akan menjadikan kopi berbeda namanya, semisal machiatos atau espresso.

Bagiku, rasa pahit kopi sama saja. Hanya satu bagian lidahku yang dapat merasakannya, pangkal lidah. Maklum, hanya terbiasa dengan kopi sachet mungkin melemahkan indera pengecapku. Tak bisa membedakan tingkat kepahitan kopi.

Kai (kakek)-mu dulu kalau buat kopi itu harus diaduk lima puluh kali. Ndak tahu kenapa, tapi hitungannya harus lima puluh kali adukan,” ujar budheku ketika ku kisahkan temanku si penikmat kopi. “Mungkin kelarutannya beda, Budhe.” | “Kurang tahu. Pokoknya adukannya harus lima puluh kali,” imbuhnya.

Kenikmatan rasa pahit kopi ini membuatku berpikir. Pantaslah jika rasa pahit kopi ini dihubungkan dengan kepahitan hidup, bahkan menjadi kata-kata bijak, filosofi kopi. Bagaimana tidak? Sepahit-pahitnya kopi, ia harus dinikmati karena ada harga yang dibayar (untuk membelinya). Terlebih jika kopi tersebut disediakan di kafe dengan suasana yang nyaman. Sejatinya, bukanlah pahit itu yang dinikmati, tetapi perjuangan untuk mendapatkannya yang dinikmati.

Sebagaimana kehidupan. Sepahit-pahitnya kehidupan, ia harus dinikmati. Bukan pahitnya yang dinikmati, tapi perjuangan untuk mendapatkan kehidupan itulah yang dinikmati. Siapa sih yang menginginkan kehidupan yang pahit?

Kepahitan dalam hidup pasti tak bisa dihindari. Tetapi menikmati kehidupan, itu merupakan bentuk syukur. Karena kehidupan itu MAHAL harganya. Dan bukankah janji-Nya adalah menambah kenikmatan dalam setiap kesyukuran? Atau kita ragu dengan janji-Nya?

Bersyukur, ini bukan kopi maut di meja 54

Banjarmasin, 21 Agustus 2016.

*efek minum kopi, jadi susah tidur. Walhasil ya menulis. Karena menulis itu CANDU

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram