Breaking News
Home / Nalar / Bisnis Sekolah

Bisnis Sekolah

Selama masa sekolah dulu, saya sering “melahap” buku-buku motivasi karya Robert T Kiyosaki dengan Rich Dad Poor Dad, Roem Topatimasang dengan Sekolah itu Candu, Ippho Santosa dengan 10 Wasiat Terlarang, dan semacamnya. Hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan tapi tidak juga dengan pendidikan. Keterampilan. Pengalaman. Sampai akhirnya saya menulis karya tulis di akhir tahun sekolah yang juga berkaitan dengan hal tersebut. Mungkin karya tersebut masih ada di perpustakaan sekolah.

Pendidikan, dalam sebuah tulisan oleh Ippho Santosa mengatakan bahwa pendidikan merupakan bisnis yang “menggiurkan”. Entah di mana saya menemukan pernyataan tersebut. Tapi hingga sekarang, masih terngiang-ngiang di kepala.

Logikanya demikian. Pendidikan, lebih khususnya adalah sekolah. Jika dipandang sebagai sebuah bisnis maka pemasukkannya didapatkan dari biaya bulanan yang dibayarkan orang tua murid dalam bentuk SPP. Dikatakan menggiurkan karena pemasukannya didapat di muka. Bukankah demikian? SPP dibayar paling tidak di minggu pertama setiap bulan.

Sekolah dapat dikatakan merupakan bisnis yang bergerak di bidang jasa. Jasa belum diberikan (seutuhnya) tapi pelanggan dalam hal ini orang tua murid sudah memberikan pembayarannya. Bahkan bisa jadi hasil dari jasa tersebut tidak serta merta langsung terlihat.

Mari coba kita memasukkan komponen angka sehingga sekolah menjadi sesuatu yang asyik untuk diniagakan.

Katakanlah sebuah sekolah memiliki murid sebanyak 1.200 dengan biaya bulanan sebesar 1 juta tiap bulannya. Maka pendapatan kotor sebesar 1,2 miliar setiap bulan. Miliar dengan angka 0 sebanyak 9. Fantastis.

Padahal paling tidak ada satu tahun pelajaran sehingga nominal tersebut dikali dengan 12. Maka menjadi 14,4 miliar dalam setahun.

Tentu pemasukan bukan hanya dari SPP semata, tapi ada juga sumbangan pangkal, seragam, buku, ujian, dan lain sebagainya yang bersifat insidentil. Selain sumbangan pangkal ini, tentu akan “langsung” kembali kepada murid selaku penerima jasa tersebut. Kalaupun ada keuntungan yang bisa diambil darinya mungkin hanyalah komisi dengan pihak yang bersangkutan.

Sumbangan pangkal ini ibarat modal usaha yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sarana dan prasarana sekolah, seperti peremajaan interior maupun teknologi sistem akademik. Selama komponen ini tidak diutak-atik untuk membiayai kegiatan operasional, fiuh, sepertinya sekolah akan semakin bergengsi.

Di sisi lain, untuk pengeluaran. Jika kita mendaftar komponennya yang mendasar adalah upah guru. Melihat jumlah murid sebanyak 1.200 maka dengan rasio 30:1, jumlah guru yang dibutuhkan sebanyak 40 orang. Dengan SPP 1 juta per bulan, maka berapa kira-kira upah yang pantas diterima seorang guru?

Beban operasional yang lain di antaranya tagihan listrik dan internet, alat tulis, kebersihan, upah pegawai non guru, dan masih banyak lagi. Beban operasional ini sebisa mungkin berada di bawah akumulasi dari SPP bulanan, sehingga tetap memberikan marjin keuntungan. Bahkan jangan sampai “merongrong” sumbangan pangkal yang digunakan untuk pengembangan berkelanjutan. Karena jika beban operasional ini sudah merongrong, tinggal tunggu tanggal mainnya saja ketika terjadi defisit.

Tetapi kemudian, rasanya dholim ketika sekolah dijadikan sebagai ladang bisnis murni. Bukankah misi utama dari sekolah adalah mencerdaskan anak didik? Di situlah terkadang sekolah memiliki kegiatan bisnis lain yang memang murni untuk mengeruk profit. Tetapi lagi-lagi hal ini menjadi dilema ketika targetnya adalah hanya murid saja.

Munculnya angka-angka di atas hanyalah permisalan dengan banyak asumsi, terutama pada bagian pemasukan. Karena pada kenyataannya, belum tentu kapasitas sekolah sebanyak 1.200 terpenuhi. Padahal ia harus menanggung biaya operasional yang tetap.

Tetapi bisa juga sekolah overcapacity sehingga rasio murid dibanding dengan guru yang semula 30:1 menjadi 40:1, naik lebih dari 30 persen. Sedangkan biaya operasional terutama upah guru tetap.

Sekarang, ketika sudah mendaftar segala pemasukan dan pengeluarannya, berapa keuntungan bersih yang didapatkan dari sekolah setiap tahunnya?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram