Breaking News
Home / Nalar / Bisnis Penitipan Sepeda Motor

Bisnis Penitipan Sepeda Motor

Sabtu pagi di Stasiun Lempuyangan, para calon penumpang sudah membanjiri ruang tunggu. Lusinan deret kursi besi yang tersedia tak lagi mencukupi ratusan orang yang sudah menunggu sedari shubuh, baik di luar peron maupun di dalamnya. Maka, kejenuhan dan kecapaian mengalahkan ego dan gengsi. Pantat ditaruh sekenanya di anak tangga dan lantai, yang masih lembab bekas guyuran hujan deras semalam. Menyisakan bulir embun dingin yang membuat “pulau” di celana dan rok.

Tak jauh berbeda, para pencari nafkah di luar peron berkerumun, menghampiri. Kata “ojek”, “becak”, dan “taksi” saling bersahutan, menyambut setiap penumpang yang keluar dari peron. Saya salah satunya, berjalan sambil lalu. Melambaikan tangan, tak acuh. Lambaian hanya setinggi pinggang sudah cukup memberi kesan sebuah penolakan. Ditambah dengan kepala yang melengos, menghindari kontak mata langsung, mempertegas penolakan tersebut. Mereka yang agresif akan mengekor setiap langkah. Terutama mereka yang membawa banyak muatan. Sisanya, enggan. Mencari kesempatan lain. Toh masih pagi. Masih ada belasan kereta yang mengangkut ribuan orang lagi. Apalagi akhir pekan.

Jalan Lempuyangan juga sama. Kendaraan silih berganti. Mereka yang “drop off” hanya diberi waktu 10 – 30 detik. Lebih dari itu, barisan kendaraan akan mengular sepanjang stasiun dan konser klakson meramaikan kesibukan Sabtu pagi di Stasiun Lempuyangan.

Saya berdiri mematung di atas trotoar, melemparkan pandangan jauh ke arah berlawanan dari kendaraan. Mengawasi calon penumpang yang berlarian, khawatir tertinggal kereta. Ada juga yang berjalan santai setelah cium tangan dan melemparkan “kiss bye” kepada pengantarnya. Ck, love birds. Sesekali mengamati layar ponsel sambil harap-harap cemas, menunggu yang menjemput (bagian cemas ini bo’ong banget :p).

Ada yang menarik di sini. Sepanjang jalan ini dipenuhi tempat penitipan sepeda motor 24 jam. Pemandangan biasa yang ditemukan di sekitar tempat pemberhentian transportasi, baik bandara, terminal, maupun stasiun. Yang menarik adalah ada satu tempat yang tidak hanya menyediakan tempat penitipan tetapi juga penyewaan sepeda motor.

Jasa penitipan sepeda motor memiliki kapasitas maksimal yang terbatas oleh luas tanah. Semakin luas, semakin banyak pula sepeda motor yang dapat ditampung. Karena keuntungan yang diperoleh dari jasa tersebut ialah kuantitas dari kendaraan yang dititipkan. Semakin banyak yang bisa ditampung, semakin besar pula kapasitasnya “memeluk” emas ketika tidur. Semisal setiap kendaraan dipasang tarif 5.000 per malam dan tanahnya mampu menampung 100 sepeda motor, maka setiap malamnya ia tidur “memeluk” Rp 500.000.

Kapasitas maksimal tanahnya menghasilkan uang per malam ialah Rp 500.000. Akumulasi satu bulan atau 30 malam menjadi Rp 15 juta. Perhitungan idealnya demikian. Jika ditambahkan sedikit kondisi riil, kapasitas per bulan rata-rata hanya 60 persen maka pemasukan per bulan sebesar Rp 9 juta. Dengan mengangkat dua karyawan untuk mengatur lahan parkir bergaji Rp 1,5 juta, ia masih mengantongi Rp 6 juta. Hanya duduk manis sambil menonton infotainment. Kondisi riil lain bisa ditambahkan, seperti listrik dan lain sebagainya.

Jika pemasukan maksimal dibatasi oleh daya tampung kendaraan, masih bisakah batas tersebut ditingkatkan? Membeli tanah tetangga, cara termudah. Tetapi apakah ia mau? Kalaupun iya, tentu itu akan meningkatkan biaya operasionalnya. Tinggal dihitung kapan breakeven hingga akhirnya menghasilkan profit.

Tanpa perluasan wilayah (kapasitas), pemasukan bisa ditingkatkan dengan diversifikasi. Jasa penitipan helm merupakan bisnis komplementer dari penitipan sepeda motor. Kurangi 5 spot sepeda motor dan menaruh rak helm untuk 50 helm bisa jadi alternatif lain. Mari kita tambahkan nominal. Mengurangi 5 sepeda motor berdampak mengurangi pemasukan sebesar Rp 25 ribu (5 x Rp 5 ribu). Tetapi itu tergantikan dengan Rp 50 ribu (50 x Rp 1.000). Ada kenaikan pemasukan maksimal Rp 25 ribu atau 5% dari pemasukan harian.

Uniknya di sini. Bagaimana jika penitip sepeda motor ditawari untuk menyewakan sepeda motornya? Alih-alih sepeda motor hanya diam memenuhi lahan parkir, ia bisa digunakan untuk “menjemput” uang. Pemilik tempat penitipan bisa mendapatkan komisi dari jasa persewaan tersebut dan pemilik sepeda motor juga mendapat presentase keuntungan terbesar karena penggunaan sepeda motornya. Lahan parkir masih bisa digunakan untuk menampung sepeda motor lain. Dan batas pemasukan maksimal (Rp 500.000) per malam “runtuh”.

Jika setiap sepeda motor dipasang tarif sewa Rp 35 ribu per hari, maka ia telah meningkatkan Rp 5.000 menjadi Rp 35.000. Itu berarti peningkatan sebesar 700%. GILA!!!

Sampai sini (jasa sewa), sudut pandangnya harus diubah. Bisnis berbeda, penangannya juga harus berbeda. Salah satu permasalahan utama ialah jika penyewa menjadi maling, menyewa tanpa mengembalikan. Itu risiko terbesar, seharga satu unit sepeda motor.

Tantangan lain yang perlu dihadapi ialah jika penyewa terlambat mengembalikan. Denda tentu dikenakan, tetapi bagaimana jika pemilik kendaraan datang dan ingin mengambil titipannya? Itu kasus lain, jasa sewa yang dikombinasikan dengan penitipan sepeda motor.

STOP! Pernah melihat model bisnis demikian?

Tak lama, “Aaah. Itu dia yang menjemput saya sudah datang.” Revo merah dengan plat nomor AD. Cowok.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram