Breaking News
Home / Nalar / Bisnis Game Center

Bisnis Game Center

Menggali ide bisnis ketika muda itu seperti melompat ke kolam bola. Tinggal lompat. Tak perlu takut. Menyenangkan. Banyak bola warna-warni. Tak harus pandai berenang. Tak perlu khawatir tenggelam. Asyik. Kelihatannya.

Tanpa tahu misteri dalam kolam tersebut. Mana tahu kalau ternyata dalam. Mana tahu kalau ternyata ada ular di dalamnya. Mana tahu kalau ternyata ada anak lain di lintasan lompat. Mana tahu kalau dan kalau yang lain. Tinggal lompat. Dan menikmati bola-bola yang terlempar ke sana sini.

Setamat kampus dulu, persis ketika “mengabdi” di pesantren. Ada bayangan untuk membuka bisnis warnet atau game center. Bayangkan saja, betapa menyenangkannya bermain video game. Pasang saja 20 konsol lengkap dengan tarif 3.000 perak per jam. Maka dalam sejam bisa mendapatkan 60.000 rupiah. Tinggal dikali 24 jam sehari maka menjadi 1.440.000 rupiah dalam sehari. Jika sebulan ada 30 hari maka menjadi 43.200.000 dalam sebulan. Tinggal kipas-kipas hitung duit.

Haha tapi itu adalah kondisi ideal pemasukan maksimal dari kegiatan operasional. Dengan banyak asumsi yang digunakan. Konsol terpakai keseluruhan selama 24 jam dalam 7 hari. Realisasinya tentu harus ada waktu jeda agar konsol tidak overheating. Asumsi lain ialah pelanggan juga bermain selama 24 jam dalam 7 hari. Rasanya juga tidak demikian. Tentu ada waktu istirahat, jam sekolah, dan sebagainya dan sebagainya.

Itu baru pemasukan maksimal dalam sebulan. Belum menghitung biaya operasional seperti tagihan listrik, upah kerja karyawan, dan kebersihan.

Lebih dalam lagi dihitung, belum menghitung biaya pokok yang harus ditanggung agar kegiatan operasional berjalan seperti menyewa ruko, interior, konsol, televisi, dan AC.

Ketika biaya pokok sudah terhitung dan pendapatan bersih operasional terestimasi, maka dihitung kembali berapa lama biaya pokok tersebut terlunasi. Satu, tiga, atau lima tahun. Bisa jadi kurang atau lebih tergantung dari pemasukan dan pendapatan. Tergantung pula bisa sabar menikmati pemasukan atau “segera” menghabiskannya.

Jika semua sudah terhitung dan terlihat “menjanjikan”, sekarang melihat dampak di luar bisnis. Katakanlah sosial. Membangun game center, apakah misinya selaras dengan operasinya? Jika misinya hanya duit semata, perlu diingat bahwa duit itu tidak kekal. Sedangkan game center, apa misinya selain hiburan semata?

Dampak sosialnya bisa buruk ketika pengunjung begitu ketagihan sehingga melupakan kehidupan sehari-harinya. Mungkin pengunjung yang ditargetkan ialah anak-anak tak masalah, tapi bagaimana dengan orang tuanya? Okelah, ketika sang anak mampu mengelola waktu sehingga tidak mengganggu kehidupannya, tapi jika tidak?

Ah, memang itu sebenarnya bukan ranah pengelola game center. Tapi tak bisa dipungkiri, hal yang demikian dapat mempengaruhi kegiatan bisnis. Dan inilah sebagian kecil dari risiko tersebut.

Risiko pun harus diukur, apakah sepadan dengan keuntungan yang didapat. Atau jangan-jangan besar pasak daripada tiang? Besar di risiko karena tidak mampu mengestimasinya.

Tapi bukankah di sinilah tantangannya? Bagaimana mengukur risiko tersebut lantas memperkecil risiko yang ditanggung. Atau dengan memperbesar potensi keuntungan yang didapat. Tetapi sekali lagi perlu diingat, masih bisa ditingkatkankah keuntungan maksimal yang diperkirakan di awal tulisan ini?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram