Breaking News
Home / Nalar / Biasanya ya, Mas?

Biasanya ya, Mas?

“Biasanya ya, Mas?” ujar petugas perempuan akrab. Dalam sepersekian detik, saya terdiam. Bingung. Baru saja sampai keluar mobil. Lagipula ini baru kali kedua saya datang ke sini. Kali pertama kira-kira sebulan yang lalu. Apa mbaknya masih ingat saya dan pesanan saya sebelumnya ya? *GR mode on.

 

“Eh, iya Mbak. Biasa,” jawabku. “Tambah oli plastik . . .” belum selesai saya berbicara, dipotong mbaknya.

 

“Tambah 20.000 ya?” ‘Lhoh, kirain hapal pesanan saya karena menanyakan “biasanya”‘.

 

“. . . Sama cuci mesin, Mbak,” sambungku.

“Berarti semuanya 75.000 ya, Mas?!” sambil menunjukkan angka 7 dengan jemarinya.

Selama sepersekian detik tadi, sempat saya tertegun dengan istilah “biasanya”. Setelah dipikir-pikir, ternyata itu merupakan salah satu “trik” yang bisa digunakan untuk “mengibuli” pelanggan. Saya korbannya. Pelanggan (pembeli) akan merasa bahwa dirinya dikenal oleh penjual sampai hapal pesanannya. Itu lebih dari cukup untuk membuat pelanggan merasa “berada di rumah sendiri”.

Dengan demikian, kesan pertama yang terbenam di benak pelanggan itu “wah”. Berbeda jika yang diucapkan demikian, “Selamat siang. Pesan seperti apa, Mas?”. Datar. Standar banget. Kaku. Terlalu formal untuk usaha sekelas cuci mobil.

Memposisikan diri sebagai teman dekat pada pelanggan, itu triknya.

Menghafal pesanan pelanggan juga merupakan trik lain untuk mengenal lebih dekat pada pelanggan. Itu sebabnya data seputar apa yang biasa dipesan begitu penting bagi pelaku usaha. Setiap anda mengunjungi laman di internet, anda kerap dimintai persetujuan bahwa “cookies” anda tersimpan oleh laman tersebut. Apa gunanya? Mengumpulkan data perilaku pengunjung. Data tersebut lantas dapat digunakan untuk memajang iklan yang sesuai dengan perilaku kita di internet.

Sebagai contoh, jika sering membuka halaman yang berkaitan dengan LEGO, maka iklan yang muncul ialah seputar LEGO. Meski bukan halaman LEGO yang kita kunjungi. Dan seterusnya dan seterusnya.

Menghafal pesanan dan mengakrabkan diri ke pelanggan merupakan salah dua dari menggaet pelanggan untuk datang lagi, lagi, dan lagi.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram