Breaking News
Home / Nalar / Belajarlah dari Metamorfosis Kupu-Kupu

Belajarlah dari Metamorfosis Kupu-Kupu

Belajarlah dari kehidupan kupu-kupu. Begitulah kata orang bijak.

Mengapa? Karena ia memiliki siklus metamorfosis (paling) sempurna. Dikatakan sempurna karena wujud awal sangat berbeda dengan wujud akhirnya. Mulai dari telur, larva, ulat, kepompong, hingga kupu-kupu. Paling tidak, itulah yang diajarkan di pelajaran IPA.

Tapi yang namanya motivator selalu bisa mengambil falsafah kehidupan dari sebuah fenomena alam. Entah itu digunakan untuk memotivasi orang lain, atau paling tidak untuk dirinya sendiri.

Ulat, buruk rupa, menjijikkan, menggelikan, perusak tanaman, bulunya yang gatal, dan berbagai keburukan disematkan pada dirinya.

Bisa jadi kita pernah berada di posisi ulat. Buruk rupa, menjijikkan, gendut, perusak suasana, dan bahkan kehadirannya sangat tidak diharapkan. Parasit kehidupan.

Lantas, siapa yang betah bertahan dalam posisi ulat tersebut? Dihina, dimaki, dikucilkan, dicemooh, bahkan selalu dibully. Maka, selayaknya kehidupan ulat, ia meninggalkan segalanya. Yah segalanya.

Bertapa, menahan segala apa yang biasa ia dapatkan. Meninggalkan dunia yang bising. Selama beberapa hari lamanya. Bisa berminggu-minggu. Bahkan bertahun-tahun.

Berdiam diri. Berkontemplasi atas apa yang pernah dilakukannya selama ini. Seakan bertaruh atas hidup matinya. Kembali ke dunia yang bising dengan menjadi pribadi yang baru atau tetap berdiam diri dalam kepompong, mengasingkan diri, tanpa pernah berkeinginan untuk keluar darinya.

Meskipun ia keluar, pribadinya berubah baru, tapi isinya sama. Masih menjijikkan, parasit kehidupan. Seakan ia enggan untuk move on. Atau bahkan kemasannya yang baru tetapi hatinya MATI. Tubuhnya hanya bergerak mengikuti arus. Seperti robot yang tak berhati. Zombie yang tak hidup.

Tetapi jika hasil bertapanya sukses. Ia keluar benar-benar menjadi pribadi yang baru. Bukan lagi menjadi parasit kehidupan yang merusak lingkungannya. Namun justru membantu, menolong penyerbukan bunga. Menjodohkan antara benang sari dengan putik bunga.

Bunga-bunga yang hanya diam, pasif, seakan tak berinovasi. Kehadiran kupu-kupu membawa perubahan, membawa kehidupan, mengantarkan siklus yang terus berulang. Simbiosis mutualisme, begitu istilah yang digunakan. Saling menolong. Ia mendapat nektar, ia membantu penyerbukan.

Lantas, di mana pelajaran kehidupan dari metamorfosis makhluk ini? Bukan fase di mana ia menjadi kupu-kupu yang indah. Yang elok nan rupawan warnanya. Sayapnya mengepak, berkejaran dan berlompatan dari satu taman bunga ke taman bunga yang lain.

Bukan pula fase di mana ia masih menjadi ulat. Berbulu. Gatal. Hanya makan dedaunan. Merusak tanaman. Parasit.

Namun justru ketika ia menjadi kepompong. Hanya diam. Mencari tempat pengasingan. Selama berhari-hari lamanya. Tak terusik dengan keramaian dunia. Begitu juga tak mengusik dunia yang sudah ramai. Hanya sibuk dengan dirinya. Melakukan perubahan. Mengubah dirinya.

Bukankah pengasingan ulat ini seperti yang dilakukan Rasulullah? Meskipun fase sebelumnya tidak seburuk ulat yang menjadi parasit. Tetapi fase setelahnya, setelah “mendekam” di Gua Hira’, beliau menjadi pribadi yang “lebih” sempurna. Dan kita semua tahu ceritanya.

Lantas, tunggu apa lagi? Bukankah kata pepatah, jika ingin mengubah dunia, mulailah dari mengubah diri sendiri?

Ubahlah dunia dari mengubah diri sendiri

Rumah, 29 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram