Breaking News
Home / Curhat / Bajak Akun Media Sosial

Bajak Akun Media Sosial

Saya masih penasaran dengan motif pembajakan akun media sosial selain keisengan belaka. Keisengan temannya untuk menuliskan “Saya Jones” di akun temannya yang dibajak. Lantas, teman-temannya menyerbu di kolom komentarnya. “Lhoh, ngomong dong kalau Jones, biar dibantu mencarikan” bla . . bla . . . bla . . ujung-ujungnya “bullying”.

Pagi ini saya menemukan (baca: mencurigai) kasus serupa. Salah satu akun di Instagram melakukan “spamming” (memborbardir) dengan 9 foto yang diupload beruntun. Foto produk (dalam kasus ini adalah produk eksploitasi perempuan).

Salah satu fasilitas media sosial di Instagram ialah “timeline” (lini masa) yang HANYA menampilkan foto-foto dari akun yang diikuti (follow). Selama yang saya ingat, aktivitas saya di Instagram hanya upload, tinggal (tutup) aplikasi. Sesekali “menyelam” sambil menyebar “love” (tombol “suka” di Instagram) agar tetap “stay in touch with acquaintances”. Kalaupun menambahkan akun lain (baca: “follow”) hanya orang-orang yang memang dikenal. Bisa dengan “folbek” (follow back atau following back, entahlah. Bahasa gaulnya anak-anak ialah folbek dong kakaaaa’).

Rasa penasaran saya mengundang saya untuk mengunjungi biodata akun tadi. Analisis singkat saya berujung pada beberapa kesimpulan. Akun tadi sudah diubah menjadi akun bisnis. Itu berarti ia memiliki akses pada akun Facebooknya dengan kata lain akun Facebooknya juga berhasil dibajak.

Lebih lanjut, foto akun yang dibajak sudah di-reset – dihapus semua lantas diupload foto-foto akun yang membajak termasuk mengubah username.

Jumlah “following” lebih banyak dari jumlah “follower”-nya. Ini mengindikasikan akun baru dibuat. Asumsi ini diambil berdasarkan fitur “auto-follow” di Instagram yang otomatis menambahkan (baca: “follow”) semua teman yang berada di daftar pertemanan di Facebook begitu membuka akun baru di Instagram.

Ketika saya menghapus (baca: “unfollow”) akun tersebut, muncul sebagian daftar teman-teman saya yang berada di daftar “follower”-nya. Fitur standar di Instagram yang menunjukkan bahwa akun ini juga teman dari teman kita. Persis dengan fitur “mutual friend” di Facebook.

Dari sebagian daftar yang muncul tersebut ialah teman-teman saya di lingkaran kampus Surabaya. Ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar akun yang dibajak tersebut ialah salah satu teman saya di kampus. Siapa dia, susah untuk menelusurinya karena baik username maupun foto-foto terdahulu sudah diganti semua.

Berkaca pada kasus demikian, saya lakukan filter ulang pada daftar teman saya (baca: “following”) yang sudah ada. Ada ratusan sih, tapi cukup “scroll” cepat pada akun-akun teratas saja yang menunjukkan akun-akun yang paling baru ditambahkan.

Just in case, anda menemukan hal serupa. Bisa dihapus. Sayangnya, fitur report karena akun dibajak belum ada.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram