Breaking News
Home / Nalar / .:: Asuransi, Pengalihan Risiko ::.

.:: Asuransi, Pengalihan Risiko ::.

Bagaimana asuransi mendapatkan keuntungan?

Sebelum itu, mari kita tengok sebentar apa itu risiko. Menurut KBBI,

risiko/ri·si·ko/ n akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.

Tapi rasanya kok kurang tepat karena definisi tersebut mirip dengan konsekuensi. Menurut KBBI juga,

konsekuensi/kon·se·ku·en·si/ /konsekuénsi/ n 1 akibat (dari suatu perbuatan, pendirian, dan sebagainya); 2 persesuaian dengan yang dahulu.

Nah lhoh, mirip kan?! Rasa-rasanya, konsekuensi itu justri akibat dari risiko. Mana yang betul?

Terlepas dari itu, mari kita buat pemahaman sendiri bahwa risiko merupakan penyimpangan dari sesuatu yang ideal. Analoginya jika kita berada di persimpangan dan diharuskan untuk mengambil salah satu untuk mencapai tujuan. Setiap jalan berrisiko yang kita ambil maka akan membawa pada kondisi jalan yang berbeda, itulah konsekuensinya.

Orang suka begadang, memiliki risiko pencernaan yang tidak lancar. Begitu juga dengan orang yang suka mengkonsumsi mie instan. Konsekuensi dari itu adalah sakit, berobat, dan ujung-ujungnya adalah BIAYA. Ketika seseorang tidak ingin sakit, berobat, sampai terbebani biaya, maka jangan sesekali ambil risiko (contoh: begadang, makan mie instan, dst.)

Sayangnya, begadang menjadi tuntutan ketika tugas menumpuk apalagi jika dikejar deadline. Begitu juga mie instan menjadi makanan pokok ketika waktu makan yang sempit apalagi di akhir bulan :p. Mau tidak mau, risiko tersebut harus diambil.

Tapi ada cara lain agar risiko tersebut bukan kita yang menanggungnya, tapi dialihkan ke orang lain. Lha emang ada orang yang rela menanggung risiko yang bukan miliknya sendiri? Dari situlah muncul produk yang disebut ASURANSI.

Asuransi tak lebih dari pengalihan risiko. Imbal balik yang dari penanggungan risiko adalah PREMI, biaya wajib bulanan yang harus dibayarkan selama risiko tersebut tertanggung. Besaran premi ini memang tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh asuransi ketika kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Tetapi jika banyak orang yang mengalihkan risikonya ke asuransi maka bisa dibayangkan sendiri.

Agar lebih mudah dibayangkan, saya masukkan angka-angka. Ada 2.500 orang mengalihkan risiko kesehatannya dengan membayar premi sebesar Rp 500 ribu setiap tahun. Berarti total yang pemasukan asuransi adalah 2.500 orang x Rp 500 ribu = Rp 1.250.000.000 per tahun. Itu pemasukan bersih.

Semisal terjadi kejadian yang tidak diharapkan, ada 5% atau 125 orang yang sakit dalam setahun. Karena risiko tersebut sudah dialihkan maka kewajiban asuransi untuk menanggung semua biaya yang keluar. Katakanlah 5 juta per orang, maka total Rp 625.000.000, Asuransi masih untung Rp 625.000.000

Tapi sayangnya, biaya perawatan bisa lebih dari Rp 5 juta per orang sehingga selisih keuntungan bisa makin menipis. Begitu juga orang yang sakit bisa lebih dari 125 orang. Bagaimana asuransi mengaturnya? Kan tidak mungkin untuk mengurangi jumlah orang yang sakit, karena itu “musibah/ujian”. Maka yang ditekan adalah jumlah biaya yang tertanggung tiap orang, atau biasa disebut dengan PLAFON. Dibatasilah Rp 5 juta per orang, lebih dari itu silahkan ditanggung sendiri

Terakhir, ada satu pesan tersembunyi yang ku selipkan dalam contoh di atas. Kuncinya adalah dua angka: Rp 500.000 per tahun dan 2.500 orang :p. Silahkan berimajinasi 😀

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram