Breaking News
Home / Curhat / Anak Pendiam di Kelas

Anak Pendiam di Kelas

Ada anak pendiam yang takut bersuara di kelas. Padahal menurut kurikulum sekolah yang baru, nilai akademik tidak hanya diukur berdasarkan apa yang ada di atas kertas. Tidak hanya berdasarkan jawaban silang pilihan ganda maupun berisinya jawaban esai. Tetapi partisipasi dalam kegiatan belajar mengajar juga dinilai sebagai prosentase sempurnanya pembelajaran.

Untuk mendongkrak nilai tersebut, maka seorang guru yang kini tidak lagi ditekankan hanya terpaku pada penyampaian materi, perannya berubah menjadi fasilitator. Ia mengelola pembelajaran di kelas tidak satu arah seperti dahulu, tetapi menjadi dua arah. Bahkan sebisa mungkin peran murid lebih aktif bersuara dan menyampaikan pendapat. Guru menjadi lebih ringan hanya dengan memoderatori, meluruskan, atau menambahkan bahan diskusi yang belum terkandung dalam diskusi antar murid.

Maka, tak jarang salah satu cara yang digunakan guru adalah meminta sukarelawan dari murid untuk menyampaikan pendapatnya. Jika tidak ada yang berani menyampaikan pendapatnya, maka mau tidak mau salah seorang murid harus ditunjuk. Siap tidak siap, harus berani mengutarakan pendapatnya. Dan inilah yang saya takutkan sebagai seorang murid.

Saya lebih suka diam dan mendengarkan diskusi. Memperhatikan materi yang guru sampaikan atau pertanyaan dari teman. Tetapi kurikulum baru yang “memaksa” partisipasi di kelas membuat anak pendiam seperti saya semakin “terpojokkan”. Penunjukkan tiba-tiba membuat saya semakin gelagapan. Belum lagi dengan belasan pasang mata yang melihat. Menunggu kata-kata yang keluar dari lisan saya. Kalaupun ada yang ingin saya utarakan, rasanya semua tercekat di kerongkongan.

Metode pengajaran yang baru ini rasanya memuakkan. Lebih baik kembali ke metode pengajaran satu arah. Lebih menyenangkan. Lebih aman. Paling tidak untuk saya. Si anak pendiam.

Tetapi masalah tidak akan hilang jika tidak dihadapi bukan?

Salah satu cara yang terpikirkan di kepala saya adalah bagaimana bisa mengatasi penunjukkan tiba-tiba. Penunjukkan ini menyebabkan yang tertunjuk minimal sudah memiliki bahan omongan. Maka, cara yang paling efektif adalah membaca materi sebelum kegiatan belajar mengajar dan menyiapkan sebuah pertanyaan.

Agar mendapat kesan yang “luar biasa”, pertanyaan yang sudah disiapkan tadi dilontarkan justru sebelum pelajaran dimulai.

Apa dampaknya? Guru akan menilai (dan ini yang paling sering terjadi), menganggap bahwa saya sudah membaca materi sebelum diajarkan. Kesan tersebut tidak hanya dianggap oleh guru, tapi juga teman-teman.

Terima kasih juga dengan kurikulum yang baru. Setiap “angkat tangan” baik menanyakan maupun mengutarakan pendapat akan dihitung sebagai poin partisipasi. Guru akan lebih memprioritaskan murid-murid yang jarang aktif. Sehingga penunjukkan secara tiba-tiba tersebut akan jatuh pada selain saya, karena saya sudah mendapatkan poin partisipasi aktif di kelas.

So, menjadi anak pendiam belum tentu tidak bisa unggul. Bahkan bisa jadi center of attention.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram