Breaking News
Home / Nalar / Alergi Agama

Alergi Agama

Mungkin kita pernah menjumpai rekan kita yang enggan mengkonsumsi makanan laut seperti udang, kepiting, dan ikan laut. Ada juga yang menghindari kacang dan produk olahannya. Bukan karena mereka tidak “doyan” dengan jenis makanan tersebut. Seafood, bukan makanan murah lhoh jika sudah disebut dengan istilah dalam Bahasa Inggris tersebut. Seafood. Sebabnya ialah karena mereka alergi.

Alergi bukan penyakit remeh. Katakanlah di Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya. Diperkirakan 15 juta orang Amerika memiliki alergi makanan, dengan perbandingan 1 dari 13 anak (usia di bawah 18 tahun) memiliki gejala kronis dan mematikan. Bahkan biaya untuk mengatasi alergi makanan ini menghabiskan hingga 25 Triliun Dollar Amerika setiap tahunnya [1].

Dampak dari alergi tersebut bukan hanya internal yang dirasakan oleh pasien. Tidak juga sekedar “tidak dapat menikmati makanan” tersebut. Tetapi ada penelitian yang mengatakan bahwa pasien juga menjadi korban rundungan (bullying) akibat memiliki penyakit tersebut [2].

Lantas apa penyebab dari alergi tersebut?

Terdapat dua klasifikasi penyebab alergi makanan berdasarkan pathophysiological mechanism: di mana yang kedua ialah pollen allergy yang menyebabkan plant food allergy [3]. Intinya ialah ada bagian dari makanan yang memicu aktivitas abnormal dalam tubuh manusia.

Alergi tentu saja bukan hanya alergi terhadap makanan, tetapi ada juga alergi lain seperti alergi terhadap obat. Dan satu lagi. Alergi terhadap “agama”?!

Bayangkan jika suatu saat nanti, hal-hal yang berbau agama menjadikan orang bersin-bersin, telinga memerah panas dingin, kejang-kejang, hingga muntah-muntah. Ketika hal-hal yang berbalut dengan agama “keluar” dari ruang-ruang kelas/kajian majelis. Ketika “balutan” agama masuk ke ranah, ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik?!

Ketika pengidap alergi ini kemudian menjadi bahan rundungan masyarakan sosialnya. Padahal ia sudah cukup tersiksa karena alergi yang dideritanya.

Sebagaimana alergi makanan, ada penyebab dari alergi tersebut, yakni bagian dari makanan yang memicu aktivitas abnormal. Jika bagian kecil tersebut lama-lama melekat pada diri anda, sedikit demi sedikit hingga tanpa anda sadari terjangkit alergi, bagaimana reaksi anda?

Tahukah anda apa bagian kecil tersebut?

SARA

 

[1] “Facts And Statistics – Food Allergy Research & Education”. 2016. Foodallergy.Org. Accessed December 9. https://www.foodallergy.org/facts-and-stats.

[2] Lieberman, Jay A., Christopher Weiss, Terence J. Furlong, Scott H. Sicherer, and Mati Sicherer. 2010. Bullying among pediatric patients with food allergy. Annals of Allergy, Asthma & Immunology 105 (4): 282-6.

[3] MORIYAMA, Tatsuya. 2015. Diversity of food allergy. Journal of Nutritional Science and Vitaminology 61 (Supplement): S106-8.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram