Breaking News
Home / iseng / .:: Kuliah Itu Mengisi Waktu Luang ::.

.:: Kuliah Itu Mengisi Waktu Luang ::.

Teringat ketika pertemuan pertama kuliah S1 dulu, mata kuliah Pengantar Teknik Mesin yg diampu oleh Prof. Dr.Eng. Ir. Prabowo, M.Eng, seorang alumnus Jepang sampai2 wajah dn pembawaannya mirip Nippon (peace pak hehe), kumis pendek tebal, hem lengan pendek dimasukkan rapi, dan rambut tersisir rapi. Kontras dgn mahasiswanya yg rambut awut2an (sayang sdh dibotak krna masa ospek) dgn seragam putih hitam
 
Masing2 mahasiswa diminta maju ke depan memaparkan apa alasan masuk Teknik Mesin. Beberapa alasan klasik pun muncul, ingin mempelajari lebih dalam ilmu otomotif (karena stereotype mendengar Teknik Mesin adalah bengkel), ingin meneruskan usaha orang tua sbg kontraktor, ingin menjadi engineer, dsb
 
Eng ing en, giliran saya maju. Bingung apa yg harus d share, ndk mungkin bilang gr2 basic yg dipunya adalah Math n Phys maka ‘melingkari’ pilihan Mech Eng. Lalu apa yg harus dibilang? Biar ndk kalah keren sama yg lain
 
Maka saya ambil tokoh, floorkan.
 
“Saya ingin seperti Habibie”
 
Bukan, bukan karena ia mampu menciptakan pesawat sendiri.
Bukan pula karena ia belajar d Jerman hingga apresiasi di sana lebih wah ketimbang d dalam negeri.
Bukan pula karena ia berhasil menduduki RI-1.
 
Bukan semua itu
 
“Ada cerita yg saya dengar, Habibie mampu membongkar senjata lalu merakitnya kembali, tidak sama dgn sebelumnya bahkan lebih canggih dari sebelumnya”
 
“Maka tidak heran jika pihak luar negeri tidak ingin membiarkan Habibie memegang penelitian di bidang militer”
 
(Entah benar atau tidak cerita d atas, yg penting bisa djadikan aspirasi)
 
Sekarang, selepas dr kampus. Sudahkah ilmu itu saya dapat? Membongkar senjata? Nope
 
Tapi jika ttg Sistem Dinamis dan Pengendalian Otomatis, Simulasi Moldflow dsb, ups ndk usah ditanya
 
Bergunakah ilmu itu d dunia pesantren? Haaa..pesimis bro
 
Mbok kiro anak ki podo karo mesin?! Seng nggenah ae cak!!
 
Maka klo boleh mencuil sedikit teori manajemen operasi/riset operasional yg diampu oleh Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab, M.Sc (inspiring banget mang ni dosen, bersyukurlah klo pernah dpt kelas beliau walaupun konsekuensinya dikeluarkan dr kelas jika tidur :p )
 
Adanya “value-added” dr input menjadi output
 
Maka biskah ini diaplikasikan d dunia pesantren? BISA sekali
 
Bagaimana caranya? Banyak
 
Salah satunya adalah penanaman ‘problem solving tools’
 
Walah kok ceritanya melebar..kembali ke benang merah
 
Ingatkah tujuan kuliahmu?
Ingatkah tujuanmu sekolah?
Atau buat ank pesantren, ingatkah tujuanmu masuk pesantren?
 
Klo belum, tetapkanlah. Tak ada kata terlambat, dan tak ada kata tak tercapai, yg ada hanya baru tercapai sekian persen
 
Klo ad ank yg tanya, “lhoh tujuan ustadz kuliah buat apa?”
 
“Mengisi waktu luang” :p
 
*dilemparisepatubangkukursi
*tulisan ini pernah dipublish pada halaman fb darmawan.rhs 5 Maret 2015 lalu

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram