Breaking News
Home / Uncategorized / Antara Pasar dan Masjid

Antara Pasar dan Masjid

Baru-baru ini aku berkecimpung di dunia jual menjual. Ternyata lumayan membuat ketagihan. Hehe.

5 Maret 2016, ketika grup Whatsapp sedang ramai membicarakan persiapan menyambut Gerhana Matahari Total, seperti biasa aku hanya sesekali menanggapi dan seringnya sebagai silent reader. Nah, ketika ada desas desus penjualan kacamata filter matahari, aku dengan gercep menanggapi, “boleh juga tuh jadi resellernya di surabaya”. Secepat kilat tanggapanku diproses dan tanggal 7 Maret setelah maghrib, datanglah hampir 50 kacamata filter itu di depan kamar kosku. “Horeeee alhamdulillaaah, tapi gimana ngabisinnya ya?” hanya itu tanggapanku -_-

Agak sedih, saat aku memberanikan diri mengumumkan di depan kelas tentang kedatangan Gerhana Matahari Total, barulah teringat kacamatanya masih di kosan. “Oh tidak, gimana aku menghabiskannya dalam waktu kurang dari 24 jam ini” 😢

Siang. Surabaya lumayan hangat. Saat yang tepat untuk boci, pikirku saat itu. Mumpung hari ini ndak ada agenda di kampus~

Sesaat kumerebahkan badan..ada sms masuk. “Assalamu’alaikum, Apakah benar ini penjual kacamata filter matahari?”. Aku terjingkat, Ya Alloh baru inget kalo kacamatanya belum habis. Siang itu juga kubroadcast ke grup mana pun yang aku punya, dan sesaat itu juga notifikasi ramai menghampiri.

Sorenya kuputuskan pinjam motor teman sekosan untuk mengantar kacamata itu kesana ke mari. Cukup melelahkan. Tapi serius ketagihan!

Adzan maghrib berkumandang. Aku masih santai di jalan karena alasan kemuslimahan, aku tidak diperbolehkan untuk shalat. Chat LINE masuk, bahkan telepon. “Raisa di mana? Ini dokter-dokternya mau beli kacamatanya, beli sepuluh yaa. Aku tunggu di ATM depan kampus sekarang bisa ya?”

Ah, kesempatan. Pas banget. Aku masih pegang sepuluh. Temanku di kampus B masih ada tiga puluhan. Tapi hmmm apa baiknya aku ke kampus B dulu aja ya untuk ambil stocknya lagi? Biar nanti ndak bolak balik? Lho tapi kasihan si Rinda nungguin dong. Di sela-sela perang batin ada bisikan datang, heh masih adzan, tunggu jama’ah selesai dulu. Dan aku mulai galau.

Akhirnya kuputuskan ke masjid kampus B, mencari si Shela, pemegang stock kacamata itu. Aku seperti melawan arus di sana, kesana kemari mencari satu orang demi kepenyingan dagang, sementara orang-orang di sama berlalu lalang dari amhil wudhu menuju barisan jama’ah. Si Ajeng menegurku, “Raisa ya? Cari siapa?”, “Shela nih dimana ya?”, dan jawaban adem menusuk tersampaikan, “masih maghrib, tunggu dulu.”

Mungkin jawaban itu sederhana, bahkan biasa, tapi cukup menusuk buatku yang sedang perang batin antara menunggu jama’ah maghrib selesai atau langsung mengejar customer saat itu. Seketika sejuk. Seketika merasa tunduk. Pusaran itu sangat kuat. Pusaran panggilan untuk sujud sebagai tanda taat. Aku hanya bisa duduk di tangga sambil menyesali sikapku baru-baru itu. Semua chat dan telepon yang berhubungan dengan kacamata filter kuabaikan.

Jamaah hampir selesai. Chat masuk. “Rai, aku tunggu di kampus B FIB yaa.”

Betapa syukur itu muncul ketika Alloh menunjukkan kemudahan jika hambaNya mementingkan urusan masjid. Meskipun awalnya masih ada perang batin. Ini artinya aku tak perlu ke kampus A lagi, tak perlu berkali-kali mondar mandir kampus A ke kampus B lagi.

Pulang dari urusan itu, aku teringat sesuatu. Betapa menerima uang, dan kegiatan jual beli tersebut sangat menjadi candu. Mau ke mesjid terdekat dulu tapi ada customer yang nungguin di sebelah sana. Mau ke customer dulu tapi nanyi ndak bisa shalat tepat waktu. Galau. Dari pengalaman sore kamarin, aku menyimpulka satu poin: Betapa survival keimanan seseorang bergantung pada hanya 2 hal, yaitu: prinsip diri sendiri dan lingkungan yang mendukung.

Prinsip diri bisa ada pada yang berjualan, bisa juga pada customer, pada atasan/pimpinan. Misal, jika ketiga pihak ini berprinsip sama ketika mendengar adzan semua kegiatan harus ditinggalkan untuk mendirikan shalat, maka masing-masing pribadi akan terpenuhi kebutuhan ruhaninya. Namun, jika satu saja dari ketiga pihak tak saling mendukung, maka akan ada terugikan, bahkan bisa jadi semua pihak yang rugi dalam hal ruhani. Hal ini bisa dikategorikan sebagai lingkungan yang mendukung, karena budaya suatu kelompok, bergantung pada prinsip anggotanya bukan?

Penat rasanya ketika materi dikejar tanpa ada makna hikmah yang direnungkan. Sehingga nikmat tetap membuat selamat, cobaan tak menimbulkan keluhan. Karena kita semua paham bahwa sesuatu tak pernah terjadi secara kebetulan.

About bintuabinaufal

Tawaku bukan berarti gembiraku
Tangisku bukan berarti sedihku

Check Also

Bisnis Penitipan Sepeda Motor

Sabtu pagi di Stasiun Lempuyangan, para calon penumpang sudah membanjiri ruang tunggu. Lusinan deret kursi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram