Breaking News
Home / Cerpen / Resolusi Langit

Resolusi Langit

Hari ini adalah hari pertama di tahun yang baru. Hari penuh dengan aneka resolusi di media sosial. Mulai dari resolusi lulus sekolah sampai resolusi melepas bujang. Semua beramai-ramai dengan semangat membara memamerkan resolusi mereka. Sayangnya itu tak berlaku bagi manusia yang satu ini. Nama panggilannya El. Nama panjangnya El Karami. Entah film apa yang ditonton oleh orang tuanya sehingga menamainya dengan nama yang mungkin tidak biasa.

“Hai El”, wanita yang terbilang cantik menyapa dirinya yang sejak selepas magrib hanya menatap luasnya langit.

“Yes mom”, El pun menyaut singkat tanpa peduli bahwa yang memanggil itu mamanya.

“Ada apa sayang ?”, wanita yang dipanggil mom oleh El pun menghampiri dirinya.

“Sepertinya anak kesayangan mama sedang galau”

“Ngomong-ngomong, apa resolusi kamu tahun ini ?”, sang mama pun mulai ikut ikutan berbicara resolusi yang ramai dibahas di media sosial.

“Please mom, jangan bahas hal yang aku tak mau tahu”, jawab El kesal.

“Bagi aku, hidup bebas seperti ini sudah menjadi resolusi terindah dalam hidupku”

“Sure !!!”, mamanya mencoba meyakinkan anaknya. Sebagai seorang ibu, dia sudah paham ada yang berbeda di mata anaknya.

“Ok, how about your future ?”

“You are 28 years old and do not you think to get married ?”, sang mama langsung bertanya ke intinya tanpa basa basi sama sekali.

“Please mom, jangan bahas itu sekarang”, El pun sudah mulai paham arah pembicaraan mamanya. Sudah hampir beberapa bulan ini mama memang selalu bertanya kapan dia menikah. Usianya yang memang mengharuskan dia sudah harus siap menikah.

“Ok, mama gak akan bahas itu tetapi mama khawatir”, mama El mulai menyampaikan kerisauan hatinya.

“Kamu tiap hari sepulang kerja hanya sibuk memandang langit kosong”

“Apakah kamu tidak pernah berfikir untuk setidaknya mencari seorang gadis ?”

“Memang ada apa si dengan langit. Apa ada bidadari yang bakal turun dari langit ?”, mamapun mulai bicara ketus.

“Ma, entah kenapa El takut”, El mulai berkeluh tentang kegelisahan hatinya selama ini.

“El takut main hati ma”

“El takut kalo El gk bisa mendapatkan wanita sekuat mama”

Mama mulai paham kerisauan sang anak. Dia berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Dia sadar hidup sendiri ditinggal mati sang suami membuat dirinya harus benar-benar extra keras. Hanya dengan rumah sederhana dan satu satunya anak laki-laki. Dia harus menyadari bahwa yang dihadapinya anak laki-laki dan bukan anak perempuan.

“Ok, mama paham”, mamapun mencoba bicara dengan tenang.

“Tapi, apa manfaatnya kamu duduk disini sepanjang malam memandang langit ?”

El pun mulai tersenyum mendengar pertanyaan mamanya dan duduk serius di samping mamanya.

“Ma…”, El memulai jawabannya.

“Dari langit, aku merasa bisa melihat orang yang akan menjadi pendamping hidupku”

“Dari langit, aku merasa bahwa ada yang sedang berpikir sama dengan diriku”

“Aku hanya bisa berharap mataku dan matanya bisa saling menatap lewat langit ini walau kita belum pernah saling kenal”

“Sekarang mama berdoa saja semoga aku bisa mendapatkan pendamping layaknya bidadari yang turun dari langit”, El pun tersenyum sendiri.

“Apapun itu, mama akan selalu berdoa yang terbaik buat kamu”, mamapun memeluk hangat sang anak.

El pun hanya bisa tersenyum manja mendapatkan pelukan sayang dari mamanya.

About aji.achmad

Check Also

.:Kisah Dewaruci.:

Sekilas mendengar namanya, seketika teringat dengan Kapal buatan Indonesia yang sudah berkelana keliling Benua . …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram