Breaking News
Home / Cerpen / Janji

Janji

Langit hari ini terlihat mendung. Cahaya bulan yang biasa bersinar tertutup oleh tebalnya awan mendung. Seorang anak muda tampak tenang berjalan menyusuri jalan yang sepi. Udara yang dingin tak menghalangi pemuda tersebut menikmati kemuraman malam itu.

“El, mama kamu masuk rumah sakit”, sebuah berita di pagi hari yang membuat si penerima telepon gelisah. Masih terbayang sebuah ingatan ketika ayahnya masuk rumah sakit dan dia tidak terlalu panik seperti saat ini. Bayangan yang membekas bagi dirinya karena beberapa hari setelah itu ayahnya pergi meninggalkkan dia untuk selama-lamanya

“Rumah sakit mana ?”, tanya El dan kemudian bergegas ke rumah sakit yang dimaksud. Dengan menggunakan motor kesayangan ayahnya, El langsung melaju dengan kencangnya berliuk-liuk membelah padatnya kota yang ia tinggali. Tanpa terasa air matanya menetes mengingat-ingat betapa besar kasih sayang mamanya kepada dirinya.

“Mom, are you all right ?”, pertanyaan singkat muncul ketika mama yang sangat dia sayangi bangun dari lelapnya.

“Mama gak papa kok”, jawab mama singkat.

El pun langsung memeluk mamanya dan menangis sejadi-jadinya. Dia merasa bahwa dia masih butuh kasih sayang mamanya dan takut kalo salah satu orang yang dia sayang pergi meninggalkan dirinya.

“Kamu jadi keluar kota minggu depan ?”, mama El mulai membuka topik agar anaknya tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.

“Please mom, jangan bahas itu dulu. Kesehatan mama lebih penting dibandingkan acaraku minggu depan”, El menjawab dengan tampak kekhawatiran diwajahnya.

Mama El hanya bisa mengusap ubun-ubun anaknya. Dia sangat paham bahwa anaknya sangat mengkhawatirkan dirinya.

“Kring…kring…”, dering telpon El mengagetkan dirinya yg sedang berjalan melamun sendirian.

“El, nyokap lw gak papa kan ?”, suara laki-laki muncul dari ponsel pintar yang dibawa El.

“Baik kok yan, thanks atas perhatiannya”, El menjawab datar.

“El, if you need something, please let me know”, balas laki-laki bernama yan.

“Ingat!!, lw udah gw anggap saudara sendiri”, lanjut yan

“Thanks banget sekali lagi”, El hanya bisa berucap terima kasih kepada teman baiknya sejak kecil.

“Terus yan, untuk acara minggu depan, gw gak janji bisa hadir di acara pernikahan lw”

“Maaf banget ya”, El kurang nyaman menyampaikan berita yang kurang mengenakkan.

“Gak papa kok, yang penting doanya dan nyokap lw sehat”, Yan memaklumi kondisi temannya yang sedang ditimpa musibah.

“Thanks banget ya yan”, El sekali lagi berucap terima kasih.

“Kalau nyokap gw mendingan, gw janji pasti datang”

El pun menutup telpon pintarnya. Tanpa terasa, hujan yang ditahan awan pun turun perlahan. Setetes demi setetes membasuhi bumi dan mensucikannya dari banyaknya dosa yang tersebar hingga kepenjuru. Air mata El pun menetes kembali untuk kedua kalinya di hari yang sama. Mengalir bersama tetesan hujan diwajahnya. Lalu terbayang dalam ingatannya bagaimana perjuangan mamanya setelah ditinggal mati ayahnya.

“El, please datang ke acara Yan minggu depan”, El mengingat kembali perkataan mamanya sebelum dia pulang dari rumah sakit.

“Mama akan sangat bersedih kalau kamu tidak bisa hadir ke pernikahan teman kecil kamu”, mama El meyakinkan.

“Ok, El akan datang tapi mama harus janji satu hal”, El menatap wajah mamanya yang tampak keriput di sekitar wajahnya.

“Mama harus ikuti semua kata-kata El sampai mama sehatan”

“Janji”, jawab mama El cepat.

About aji.achmad

Check Also

.:Kisah Dewaruci.:

Sekilas mendengar namanya, seketika teringat dengan Kapal buatan Indonesia yang sudah berkelana keliling Benua . …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram